Oposisi Umumkan Ketua dan Parpol Baru
📅 Sabtu, 10 Agu 2024, 02:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Lillian SUWANRUMPHA
BANGKOK - Partai oposisi utama Thailand diluncurkan kembali pada Jumat (9/8) dengan nama dan pemimpin baru, setelah partai lamanya yang memenangkan suara terbanyak dalam pemilu tahun lalu dipaksa oleh pengadilan untuk dibubarkan pekan ini.
Partai oposisi itu bernama Partai Rakyat yang dipimpin oleh pengusaha teknologi berusia 37 tahun bernama Natthaphong Ruengpanyawut, yang berjanji akan membentuk pemerintahan reformasi pada pemilu 2027.
"Saya tidak sempurna tapi saya siap meningkatkan diri untuk mempersiapkan peran PM," ujar Natthaphong.
Pada Rabu (7/8) lalu, Mahkamah Konstitusi Thailand memutuskan dengan suara bulat untuk membubarkan Partai Move Forward (MFP), parpol reformis yang merupakan garda terdepan gerakan prodemokrasi kaum muda di negara tersebut, dan melarang anggota dewan eksekutifnya berpolitik selama 10 tahun.
Di antara mereka yang dilarang adalah Pita Limjaroenrat, 43 tahun, yang memimpin MFP dengan secara mengejutkan meraih posisi pertama dalam pemilihan umum tahun lalu, setelah mendapat dukungan dari para pemilih muda dan perkotaan melalui janjinya untuk mereformasi undang-undang pencemaran nama baik kerajaan yang ketat di Thailand.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karier politik Pita terguncang pada Maret lalu ketika komisi pemilu Thailand meminta pengadilan tinggi untuk membubarkan MFP. Hal ini menyusul keputusan yang menyatakan bahwa janji partai tersebut untuk mereformasi undang-undanglese-majestesama dengan upaya untuk menggulingkan monarki konstitusional.
Menurut profil di akunLinkedIn, Natthaphong memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang ilmu komputer dan bisnis TI. Beberapa jam setelah peresmian, parpol baru itu telah menerima lebih dari 6,5 juta baht dalam bentuk sumbangan dan 13.000 aplikasi keanggotaan, menurut situs webnya.
Perwakilan partai Parit Wacharasindhu mengatakan masih ada ruang untuk membicarakan undang-undanglese-majeste, meskipun mahkamah konstitusi telah membubarkan MFP karena mereka berkampanye untuk mereformasi undang-undang tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Apa yang kami anggap sebagai masalahlese-majestemasih menjadi isu saat ini," kata Parit ketika ditanya tentang sikap partai tersebut terhadap undang-undang tersebut.
Dalam sebuah sesi wawancara denganAFPsebelum ia dilarang berpolitik, Pita memperingatkan agar tidak mempersenjatai sistem peradilan Thailand. Dia mengatakan bahwa 33 partai telah dibubarkan selama dua dekade terakhir, termasuk empat partai besar yang dipilih secara mayoritas.
Thailand, negara dengan perekonomian terbesar kedua di Asia tenggara, dikenal dengan ketidakstabilan politiknya dengan banyak kudeta sejak berakhirnya monarki absolut pada tahun 1932.
Kecaman PBB
Sementara itu Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Volker Turk, mengecam keputusan Thailand untuk membubarkan partai oposisi MFP dan melarang tokoh-tokohnya berpolitik selama beberapa tahun. Turk menyebut tindakan itu mengganggu proses demokrasi dan pluralisme politik.
"Keputusan ini berdampak serius pada kebebasan berekspresi dan berasosiasi yang mendasar dan hak rakyat untuk berpartisipasi dalam urusan publik dan kehidupan politik di Thailand," kata dia, Kamis (8/8).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!