Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Selat Drake, Perairan Paling Berbahaya di Dunia

📅 Rabu, 07 Agu 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Selat Drake, Perairan Paling Berbahaya di Dunia Doc: afp/ VANDERLEI ALMEIDA

Bagi para pelaut, Selat Drake (Drake Passage) adalah momok. Lautan di sebelah selatan Tanjung Horn yang berada di wilayah Cile dan Argentina serta utara Kepulauan Shetland selatan di Antartika ini, dianggap sebagai salah satu jalur berbahaya bagi pelayaran.

Selat Drake selama ini terjadi karena karena arus di garis lintangnya tidak menemui hambatan dari daratan manapun. Oleh karena gelombangnya yang ada bisa mencapai mencapai 12 meter, membuatnya terkenal sebagai konvergensi laut yang paling kuat.

Upaya terbaru untuk memahami Selat Drake dilakukan oleh enam penjelajah. Mereka berlayar melawan angin, melawan ombak yang dipenuhi pecahan es, sebuah cara tersulit untuk mencapai Antartika.

Pada Desember 2019, penjelajah Fiann Paul memimpin tim atlet dalam ekspedisi luar biasa untuk dari Amerika selatan ke benua yang tertutup es. Untuk melakukannya, mereka harus menempuh perjalanan sejauh 965,6 kilometer melintasi salah satu perairan paling berbahaya di dunia yaitu Selat Drake.

"Dingin, basah dan kotor," ungkap Paul, menggambarkan seperti apa yang dirasanya. Ombak pendek yang menerjang secara berurutan adalah yang terburuk. "Ombak itu menghantam Anda seperti tembok," imbuh dia dikutip Live Science.

Badai mematikan bertiup melalui tempat yang ganas ini di mana Samudra Pasifik, Atlantik, dan Selatan bertemu. Di peta, "lengan kurus" Tanjung Horn dan Semenanjung Antartika saling berpegangan hanya dipisahkan oleh Selat Drake, yang dinamai menurut Sir Francis Drake, penjelajah Inggris abad ke-16 yang juga terlibat dalam perdagangan budak.

Beberapa orang lebih suka menyebut Selat Drake sebagai Mar de Hoces atau Laut Hoces, merujuk pada pelaut Spanyol yang bernama Francisco de Hoces, yang mana ia lebih dulu mencapai bagian dunia ini 50 tahun sebelum Drake melayarinya.

Beberapa arus laut terkuat di dunia mengalir melalui Selat Drake dan gelombang besar yang ganas telah menyebabkan kematian penumpang kapal di sana hingga tahun 2022. Beberapa pelayar bahkan telah melaporkan gelombang yang tingginya melebihi 19,8 meter.

Alasan utama mengapa Selat Drake begitu sering terjadi badai adalah karena Samudra Selatan, yang mengelilingi benua Antartika yang beku, tidak terputus oleh daratan membujur dari barat ke timur. Kondisi ini berarti angin dapat bertiup kencang di seluruh dunia tanpa hambatan.

Selat Drake menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik dan terletak tepat di atas Samudra Selatan, yang mengelilingi Antartika. Karena samudra ini tidak terhalang oleh daratan, angin kencang dapat mengalir dengan mudah tanpa hambatan.

"Kami baru saja melewati badai besar dalam 24 jam terakhir," kata Karen Heywood, seorang ahli oseanografi fisik di University of East Anglia. Ia adalah anggota tim peneliti di atas RRS Sir David Attenborough. Ia berlayar ke tenggara melalui Selat Drake menuju Laut Weddell di sisi timur Semenanjung Antartika.

Dia dan rekan-rekannya bertujuan untuk mempelajari proses-proses di Laut Weddell yang menyerap karbon dari atmosfer dan menguncinya di lautan. Selat Drake sendiri adalah tempat peleburan dimana arus laut yang ekstrem membawa karbon, termasuk yang diendapkan oleh plankton, bertemu ke kedalaman tempat karbon tersebut dapat disimpan selama berabad-abad.

"Arus yang kuat di lintasan tersebut juga mengangkut material dari Pasifik yang jaraknya ribuan mil ke Atlantik utara. Perairan yang bergolak ini memiliki fungsi lain menjaga Antartika tetap dingin," kata Alberto Naveira Garabato, seorang ahli oceanografer fisika di Universitas Southampton.

Tanpa jembatan darat ke Amerika selatan, udara hangat akan jauh lebih sulit mencapai ujung paling selatan dunia. Model iklim menunjukkan bahwa ketika Selat Drake dibuka puluhan juta tahun yang lalu, tidak seorang pun tahu persis kapan selat itu memberikan kontribusi besar terhadap pendinginan Antartika.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
John Herdman Minta Timnas I...
PROFIL BINTANG

Joshua Kimmich

1.5 jam yang lalu | Opik

Olahraga
Joshua Kimmich

Anak Rawan Terkena Diare dan DBD Saat Perubahan Iklim

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Anak Rawan Terkena Diare da...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jadwal Lengkap Konser Musik di Jakarta Fair Kemayoran PRJ 2026

Jadwal Lengkap Konser Musik di Jakarta Fair Kemayoran PRJ 2026

09 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.