Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kepala HAM PBB: Kekerasan di Bangladesh Harus Dihentikan

📅 Senin, 05 Agu 2024, 09:39 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kepala HAM PBB: Kekerasan di Bangladesh Harus Dihentikan Doc: NDTV/AFP
Ket. Ratusan ribu pengunjuk rasa Bangladesh yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Sheikh Hasina bentrok dengan pendukung pemerintah pada hari Minggu, banyak orang tewas.

JENEWA - Kepala hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Volker Turk mengatakan pada hari Minggu (4/8), "kekerasan yang mengejutkan" di Bangladesh harus diakhiri. Ia mendesak pemerintah untuk berhenti menargetkan pengunjuk rasa damai.

Ribuan pengunjuk rasa Bangladesh menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Sheikh Hasina bentrok dengan pendukung pemerintah pada hari Minggu, banyak orang tewas.

"Kekerasan yang mengejutkan di Bangladesh harus dihentikan," kata Turk dalam sebuah pernyataan.

"Dengan adanya unjuk rasa besar-besaran di Dhaka yang direncanakan besok, dan sayap pemuda partai yang berkuasa dikerahkan untuk melawan para pengunjuk rasa, saya sangat khawatir akan terjadinya lebih banyak korban jiwa dan kerusakan yang lebih luas.

"Saya mengimbau, mendesak kepada para pemimpin politik dan pasukan keamanan untuk mematuhi kewajiban mereka dalam melindungi hak untuk hidup, serta kebebasan berkumpul dan berekspresi secara damai."

Aksi unjuk rasa yang dimulai bulan lalu menentang kuota pekerjaan pegawai negeri sipil telah meningkat menjadi salah satu kerusuhan terburuk dalam 15 tahun pemerintahan Hasina dan bergeser menjadi seruan yang lebih luas agar pria berusia 76 tahun itu mengundurkan diri.

Setidaknya 77 orang tewas pada hari Minggu, termasuk 14 petugas polisi, saat kedua kubu saling bertempur menggunakan tongkat dan pisau, sementara pasukan keamanan melepaskan tembakan senapan. Dengan demikian, jumlah total korban tewas sejak protes dimulai pada bulan Juli menjadi setidaknya 283 orang.

"Akuntabilitas atas pelanggaran hak asasi manusia -- termasuk mereka yang memiliki tanggung jawab atasan dan komando -- sangat penting. Masyarakat internasional harus memperjelas bahwa pada saat yang penting ini, tidak akan ada impunitas," kata Turk.

"Pemerintah harus berhenti menargetkan mereka yang berpartisipasi secara damai dalam gerakan protes, segera membebaskan mereka yang ditahan secara sewenang-wenang, memulihkan akses Internet penuh, dan menciptakan kondisi untuk dialog yang bermakna.

"Upaya untuk menekan ketidakpuasan rakyat, termasuk melalui penggunaan kekuatan yang berlebihan, dan penyebaran informasi yang salah serta hasutan untuk melakukan kekerasan, harus segera dihentikan."

Demonstrasi telah berkembang menjadi gerakan antipemerintah yang lebih luas di negara Asia Selatan berpenduduk sekitar 170 juta orang itu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Megapolitan
Pelatihan Mengemudi Becak L...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.