Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kelas Menengah Bawah Semakin Banyak yang Kehilangan Pendapatan

📅 Sabtu, 03 Agu 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

S&P Global pada Kamis (1/8) telah merilis data PMI Manufaktur Indonesia, yang menunjukkan jatuh dan terkontraksi ke 49,3 pada Juli 2024. PMI Manufaktur Indonesia terus memburuk dan turun selama empat bulan terakhir. PMI anjlok dari 54,2 pada Maret 2024 menjadi 49,3 pada Juli 2024.

Puncaknya adalah kontraksi pada Juli 2024 setelah PMI manufaktur Indonesia ada dalam fase ekspansif selama 34 bulan sebelumnya.

Sebagai informasi, PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi atau berada di zona negatif.

Direktur Ekonomi di S&P Global Market Intelligence, Paul Smith, menjelaskan PMI mengalami kontraksi karena penurunan permintaan.

"Pesanan baru dan produksi turun untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Karena itu, para produsen bersikap hati-hati, dengan aktivitas pembelian sedikit dikurangi dan pekerjaan turun pada tingkat tercepat sejak September 2021," sebut Paul, seperti dikutip dari situs resminya.

Lemahnya pasar tenaga kerja di Indonesia tecermin dari keputusan perusahaan untuk mengurangi jumlah staf untuk ketiga kalinya dalam empat bulan terakhir (pemutusan hubungan kerja/PHK).

"Produsen memilih untuk mengurangi aktivitas pembelian mereka pada Juli. Kondisi ini adalah yang pertama sejak Agustus 2021. Jumlah pekerja juga dipangkas dengan angka pengurangan yang terbesar dalam hampir tiga tahun. Ada banyak laporan tentang tidak diperpanjangnya kontrak karyawan yang sudah habis masa berlakunya," kata S&P.

Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Bagong Suyanto, mengatakan untuk memperbaiki daya beli masyarakat, pemerintah harus memfokuskan pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor primer.

Sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan punya keunggulan menyerap banyak tenaga kerja, kebalikan dari yang padat modal. Pekerjanya pun banyak dari masyarakat kelas bawah. Bila sektor itu yang diperkuat, bisa menjadi tumpuan hidup bagi orang miskin, sehingga daya beli mereka akan membaik.

"Sebaliknya, kalau terlalu fokus pada yang padat modal, belum tentu buruhnya banyak, sehingga kurang mendukung untuk memperbaiki daya beli secara lebih merata," tutur Bagong.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Crysencio Summerville
Megapolitan
BMKG Prakirakan Jakarta Ber...

Gelombang Panas Eropa: Menara Eiffel Ditutup Sementara

43 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gelombang Panas Eropa: Mena...
Luar Negeri
Aksi Jual Saham AI AS Mengg...
Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.