Indonesia Berpotensi Jadi Importir Beras Terbesar di Dunia
📅 Jumat, 02 Agu 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiPada awal 2022, rata-rata harga beras tercatat hanya di kisaran 11.750 rupiah per kg, kemudian awal 2023 merangkak naik di kisaran 12.650 rupiah per kg. Di awal 2024, harga beras mencapai 14.550 rupiah per kg dan kini di medio 2024 telah mencapai kisaran 15.350 rupiah per kg.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Masyhuri, yang diminta tanggapannya mengatakan situasi saat ini jelas bertentangan dengan amanat UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
"Pemerintah meski ada upaya, tapi jauh dari cukup untuk bisa menjalankan amanat UU Pangan yakni kecukupan produksi dalam negeri," kata Masyhuri.
UU Pangan dengan tegas mengamanatkan pentingnya kemandirian pangan dan kedaulatan pangan. Dalam Pasal 1 Ayat (1), UU Pangan mendefinisikan kemandirian pangan sebagai kemampuan negara dalam memproduksi pangan yang cukup, baik secara kuantitas maupun kualitas, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kebergantungan pada impor beras dalam jumlah besar jelas menunjukkan bahwa kita belum mencapai kemandirian pangan yang diamanatkan," katanya.
Impor juga menempatkan Indonesia pada risiko ketidakpastian pasokan dan fluktuasi harga di pasar internasional.

Sebaiknya Anda baca juga:
Jatuh Miskin
Pada kesempatan terpisah, Direktur Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan kenaikan harga beras mengkhawatirkan karena kelompok pengeluaran menengah rentan bisa mudah jatuh di bawah garis kemiskinan. Hal itu karena kontribusi beras terhadap inflasi maupun garis kemiskinan cukup besar.
"Sekali harga beras naik, kemiskinan akan naik, apalagi melihat luasan lahan panen menyusut akibat krisis iklim," kata Bhima.
Oleh sebab itu, dia meminta pemerintah agar tidak bermimpi jadi negara maju 2045 kalau tekanan harga beras saja sudah bisa membuat Indonesia terjebak di middle income trap lebih lama karena konsumsi rumah tangga tersedot untuk membeli beras.
"Naiknya harga beras bisa mengurangi porsi biaya pendidikan, perumahan, dan kesehatan," paparnya.
Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, mengatakan fenomena penurunan produksi juga terjadi karena konversi lahan produktif sekitar 100 ribuan hektare per tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!