Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Daya Beli Kelas Menengah Turun, Tergerus Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok

📅 Rabu, 31 Jul 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Daya Beli Kelas Menengah Turun, Tergerus Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok Doc: Koran Jakarta/M Fachri
Ket. Daya Beli Kelas Menengah Turun I Aktivitas kelas menengah di jantung perekonomian Jakarta, Jalan Sudirman belum lama ini. Daya beli mereka terus turun karena naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

» Solusi yang paling ampuh adalah mengendalikan harga pangan termasuk mengurangi pangan impor.

» Kemiskinan naik tinggi karena kelas menengah di ambang bawah kan langsung jadi miskin

JAKARTA - Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras dalam beberapa waktu terakhir sudah berdampak pada tergerusnya daya beli kelas menengah di Indonesia. Hal itu karena pendapatan kelas menengah relatif stagnan, sedangkan kenaikan harga kebutuhan pokok melonjak signifikan.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), dalam setahun terakhir, harga beras sudah melonjak 20 persen dan menembus rekor tertinggi pada Maret 2024. Rata-rata harga beras bulanan pada Januari 2023 tercatat seharga 12.650 rupiah per kilogram (kg). Dalam lima bulan kemudian, tepatnya pada Juni 2024, harga beras sudah melonjak menjadi 15.350 rupiah per kg.

Kenaikan itu menjadi tantangan tersendiri bagi kelas menengah di Indonesia, karena mereka tidak mendapat fasilitas instrumen perlindungan sosial yang memadai.

Guru Besar Sosiologi Ekonomi dari Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, yang diminta pendapatnya mengatakan jika daya beli masyarakat kelas menengah saja turun, maka bisa dipastikan masyarakat kelas bawah akan lebih lemah lagi.

"Pertumbuhan ekonomi kita yang lebih banyak didukung oleh belanja rumah tangga, sehingga belum sepenuhnya bisa dirasakan dampaknya oleh semua lapisan masyarakat, karena hanya lebih menguntungkan bagi golongan kelas atas yang persentasenya lebih sedikit, tetapi menguasai perekonomian karena konsumsi pasar meningkat, membuat bisnis mereka untung," kata Bagong.

Kalaupun ada kelas menengah yang jalan-jalan di pusat perbelanjaan, kebanyakan hanya untuk cuci mata dan makan bersama keluarga. Hanya sebagian kecil yang berbelanja. Mereka melakukan itu untuk menekan pengeluaran mereka lebih memilih belanja online karena harganya di bawah produk di mal, karena tidak perlu membayar sewa stan dan menggaji banyak pegawai.

Kondisi tersebut, jelasnya, otomatis akan berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja yang didominasi kelas bawah sehingga pada akhirnya daya beli mereka semakin lemah.

"Bisa dibayangkan bagaimana pelaku usaha kecil-menengah yang masih asing dengan teknologi karena latar belakang pendidikan, kultur, dan sebagainya, tentu akan tergerus. Mau tidak mau, pedagang dari golongan masyarakat kelas bawah yang lemah permodalan dan tidak punya akses kredit, daya belinya akan terus tergerus," kata Bagong.

Oleh sebab itu, kalau pemerintah ingin mencapai pertumbuhan yang berkualitas, harus memperkuat fondasi ekonomi kelas bawah karena jika mereka kuat, daya belinya ikut terangkat dan ikut menguntungkan kelas di atasnya. "Harus bottom-up, bukan sebaliknya," kata Bagong.

Tidak Berkualitas

Ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan penurunan daya beli kelas menengah di Indonesia memperlihatkan sebuah kondisi yang mengkhawatirkan keberlanjutan ekonomi di Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Rano karno Buka Jakarta Financial Festival Blok M Square

34 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Rano karno Buka Jakarta Fin...

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

47 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

48 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
Daerah
Mau Tahu Alasan Dedi Mulyad...
Ekonomi
GoPay Permudah Masyarakat I...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.