Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Koran Jakarta dan Mitras DUDI Gelar Talkshow VokasiFest Bertema 'Karir dalam Mindset Gen Z: Masihkah Relevan?'

📅 Sabtu, 20 Jul 2024, 10:05 WIB | Oleh:

"Jadi, intinya semua itu harus dari proses, bangun rumah pun dimulai dari pondasinya, semakin hebat pondasinya maka semakin hebat bangunannya. Motivasi itu sangat perlu, tapi jangan ter-preasure dengan lingkungan, lihat potensi diri kita ada di mana," tambahnya.

Sementara itu, Meisya Sallwa menjelaskan bahwa sebagai Gen Z harus berpikir bukan hanya kritis tapi realistis. Ia bercerita, sebelum di titik sekarang, dirinya dulu sekolah di bangku SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di mana anak-anak SMK itu ditempa, dibentuk untuk menjadi SDM yang siap bekerja.

"Nah, di sinilah letak realistisnya, setelah kita keluar dari dunia sekolah, kita jadi hilang arah karena yang biasanya kita dibimbing disuapin, kita harus mendisiplinkan diri dan membangun diri kita sendiri. Di sinilah letak transformasi Gen Z dari remaja ke remaja dewasa, setelah itu baru dewasa matang," ucapnya.

"Jadi memang Gen Z dengan segala mimpi, kreativitas, fleksibilitas, ingin kerja sesuai passion, ingin kerja yang enak. Siapa sih yang nggak mau kerjanya enak? Masalahnya adalah sekarang karena sudah terlalu tercuci otaknya atau brainwash melihat sosmed serba instan, kemudian jadi punya preasure dan ingin proses yang cepat juga. Nah, di situlah tantangan Gen Z untuk bisa memaknai proses. Karena sebenarnya, kesuksesan, pencapaian itu akal-akalan orang di sosial media saja buat mencapai sebuah kesuksesan. Jadi sebenarnya sukses itu tidak ada batasan waktu."

Sementara itu, Luthfi Adam menjelaskan, dari dulu sampai sekarang, teknologi selalu menjadi kata kunci ketika kita membicarakan sebuah bangsa maju atau tidak. Negara manapun yang sekarang yang disebut dengan negara maju adalah negara-negara yang secara teknologi itu 'advance'. Dan tingkat kemajuan atau 'advance' dalam penguasaan teknologi jadi faktor utama untuk kemakmuran dan kemajuan dari suatu bangsa dan negara.

"Saya merupakan generasi Milenial. Kita bandingkan dengan Gen Z secara teknologi. Apa satu hal yang paling berbeda misalnya? Handphone? Ketika saya kecil, tidak ada handphone. Bahkan pager pun juga belum ada. Saya lahir tahun '84, saat itu masih telepon rumah. Untuk mendapatkan sebuah informasi (saat itu), harus membeli koran, majalah, nonton televisi. Semua informasi itu, harus kita cari. Dulu teknologi kita, belum ada handphone, kita belum memegang informasi. Bandingkan dengan sekarang. Sekarang, temen-temen disini bisa mengetahui apa yang terjadi dimanapun," imbuhnya.

Luthfi menegaskan, dulu teknologi belum semaju sekarang. Sekarang, teknologi yang temen-temen rasakan, sudah sangat maju. Sejak temen-temen lahir, langsung bisa mengenal teknologi, terutama teknologi informasi. Nah, Gen Z adalah digital native, lahir langsung mengenal teknologi. Perbedaannya itu.

"Jadi, kelebihan utama dari teman-teman Gen Z adalah teman-teman sudah langsung berkenalan dengan teknologi sejak masih sangat kecil. Nah, ini riset yang Mitras Dudi lakukan saat ini. Kita sedang mengecek the future of works di perusahaan-perusahaan."

"Kita nge-tes makro tren, apa sih yang menyebabkan perusahaan-perusahaan tersebut merubah dan mentransformasi sistem bisnis mereka di dalam. Jawaban yang pertama adalah perubahan akses digital. Kedua, peningkatan adopsi teknologi dan teknologi canggih. Ketiga, kebijakan publik dalam pemanfaatan data dan teknologi. Dan kemudian berikutnya adalah Gen Z, teknologi Gen Z, itu yang paling berpengaruh," ujar Luthfi.

Di sisi lain, Indah Sundari menuturkan bahwa yang dirasakan Gen Z menjadi salah satu fenomena yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

"Apa yang dirasakan oleh Gen Z ya? Nah jadi sebenarnya ini menjadi salah satu fenomena, Kak. Ketika Gen Z ditanya ingin menjadi apa, rata-rata mereka menjawab ingin menjadi content creator, vlogger, YouTuber, YouTuber gaming, misalnya. Mungkin kalau generasi kita dulu ketika ditanya ingin menjadi apa, generasi kita menjawab ingin menjadi dokter, pilot, presiden, polisi, dan guru. Kalau sekarang, aku setuju dengan apa yang Kak Luthfi bilang, setiap generasi itu punya karakteristiknya masing-masing, dan yang menjadi kata kunci atau silver liningnya adalah teknologi," tuturnya.

Menurut Indah, Gen Z adalah generasi yang sangat terpapar oleh teknologi. Jadi, kata dia, poin plus dari Gen Z adalah kalian ini sebenarnya jiwa-jiwa kreatif karena lahir dengan teknologi yang sudah berkembang, informasi yang bisa cepat diserap kapanpun, dimanapun, dan sebanyak-banyaknya, sehinhga otomatis wawasan kalian juga idealnya lebih luas daripada generasi-generasi sebelumnya.

"Tapi sayangnya, kalian hadir di era yang mana tuntutannya juga semakin besar. Jadi kalian belum sempat serap memproses informasi yang ada, namun sudah ada informasi-informasi yang berdatangan lagi. Jadi terkadang, belum komprehensif dipahami, namun sudah berganti-ganti informasinya. Itu kelemahannya disitu sebenarnya. Nah hal tersebutlah yang menjadi fenomena," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

50 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.