Penyidik Selidiki Motif di Balik Upaya Pembunuhan Trump
📅 Jumat, 19 Jul 2024, 15:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AP/Gene J Puskar
WASHINGTON - Sejumlah investigasi sedang dilakukan terkait percobaan pembunuhan mantan presiden AS yang juga calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, pada acara kampanye di Butler, Pennsylvania.
Rincian baru telah muncul sejak penembakan yang menyebabkan Trump (78) terluka ringan pada Sabtu (13/7), bersama dengan beberapa pertanyaan utama tentang motif pelaku, Thomas Matthew Crooks (20).
Berikut informasi terbaru tentang investigasi tersebut:
Kegagalan Keamanan
Setelah serangan itu, salah satu pertanyaan utama yang diajukan adalah bagaimana pria bersenjata itu bisa dengan aman bertengger di atap gedung di dekat lokasi dengan garis pandang yang jelas ke panggung tempat Trump berpidato.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Dinas Rahasia Kimberly Cheatle mengatakan bangunan itu berada di luar perimeter keamanan lembaga tersebut dan pengamanannya merupakan tanggung jawab polisi setempat.
Para anggota parlemen diberi pengarahan FBI dan Dinas Rahasia dalam sesi tertutup pada hari Rabu dan diberikan kronologi peristiwa penting pada hari itu.
"Crooks diidentifikasi sebagai orang yang mencurigakan satu jam sebelum penembakan," kata Senator Republik John Barrasso dari Wyoming. "Dinas Rahasia kehilangan jejaknya."
Sebaiknya Anda baca juga:
Para pengunjung melihat Crooks di atap gedung beberapa menit sebelum Trump naik panggung dan memberi tahu polisi di lapangan tentang kehadirannya.
Crooks ditembak mati oleh penembak jitu Dinas Rahasia 26 detik setelah melepaskan tembakan pertama dari delapan tembakan.
Pengungkapan tersebut memicu kemarahan di kalangan Republikan termasuk Ketua DPR Mike Johnson, yang menyerukan pengunduran diri Cheatle.
Jim Jordan, ketua Komite Kehakiman DPR, bertanya kepada Direktur FBI Christopher Wray dalam sebuah surat apakah "gangguan komunikasi" telah menghambat kemampuan penegak hukum untuk "mengidentifikasi penembak sebagai ancaman potensial dan mengurangi ancaman tersebut sebelum ia mengambil tindakan".
Jordan juga mengklaim "pelapor" telah memberi tahu komite bahwa Dinas Rahasia memiliki "sumber daya yang terbatas" karena pertemuan puncak NATO yang baru saja selesai di Washington dan rencana kunjungan Ibu Negara Jill Biden ke Pennsylvania.
Motif
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!