Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bangun Kemandirian Ekonomi

📅 Selasa, 16 Jul 2024, 09:34 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bangun Kemandirian Ekonomi Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Pemerintah harus menghilangkan kebiasaan menyandera anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dengan utang, subsidi, dan impor pangan. Sebab, akibat tiga hal tersebut, APBN terkuras sehingga membuat ruang fiskal makin sempit. Alhasil, anggaran menjadi terbatas untuk membiayai belanja belanja produktif.

Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, menegaskan pemerintah harus fokus menyiapkan diri menghadapi potensi krisis pangan di masa depan. Salah satunya dengan memperkuat pengembangan energi terbarukan ramah lingkungan, untuk merespons tren lonjakan harga minyak, dan pelemahan rupiah.

"Pemerintah sebaiknya melakukan upaya agar utang tidak terus menggerus APBN, termasuk moratorium pembayaran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan fokus penguatan ketahanan pangan dan energi," tegas Badiul kepada Koran Jakarta, Senin (15/7).

Dia menyampaikan pangan dan energi ini ke depan memang memiliki potensi krisis yang berdampak pada multisektor, dan pemerintah harus punya strategi jitu. Tanpa itu, APBN bakal makin terbebani.

Senada, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menilai pemerintah harus mendorong kemandirian ekonomi melalui swasembada pangan untuk menekan importasi yang bisa menggerus APBN. Dia beralasan importasi pangan membuat Indonesia bergantung terhadap negara lain.

"Sangat berbahaya. Apalagi jika negara tersebut itu mengalami food shortage maka mereka tidak akan menjual bahan pangan mereka ke negara lain, sementara Indonesia sudah tergantung, maka ada kemungkinan kita bisa mendapat bahan pangan dari negara lainnya, tapi harganya sangat tinggi," jelasnya.

Kondisi itu, lanjut Esther, dapat berdampak terhadap lonjakan harga pangan domestik sehingga mengakibatkan inflasi di indonesia. "Jadi, swasembada pangan akan menjaga stabilitas harga dan stabilitas nilai tukar karena kita tidak perlu menggunakan dollar AS untuk impor pangan," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan situasi APBN perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Anggaran untuk belanja semakin naik, apalagi banyak program butuh anggaran besar tahun depan.

Di sisi lain, penerimaan pajak juga menantang karena daya beli melemah dan permintaan ekspor berkurang. Alarm fiskal terus berbunyi karena pemerintah cuma mengandalkan utang untuk menutup pelebaran defisit APBN.

"Jika gali lubang tutup lubang semakin dalam, konsekuensinya adalah kredibilitas fiskal turun, dan bunga yang harus dibayar akan naik. Peringkat utang Indonesia sedang dipertaruhkan, dan hati-hati tahun depan bayar bunga makin mahal," tegas Bhima.

Kondisi Aman

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan mengenai kondisi utang negara Indonesia yang banyak dikhawatirkan oleh masyarakat akhir-akhir ini. Dia menegaskan kondisi utang pemerintah masih dalam kondisi aman.

"SBN itu 87,9 dari total utang pemerintah dibandingkan pinjaman yang hanya 12,1 persen. Dalam hal ini, makanya kalau kita menggunakan SBN, dia tidak salah-salah amat," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI beberapa waktu lalu.

Menkeu menjelaskan utang jatuh tempo itu tidak masalah selama persepsi APBN, kondisi ekonomi dan keadaan politik dalam negeri tetap terjaga.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.