Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Perlu Intervensi Pinjol

📅 Kamis, 11 Jul 2024, 08:44 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Perlu Intervensi Pinjol Doc: istimewa

JAKARTA - Pemerintah harus mengintervensi syarat dan pembatasan bunga pinjaman online (pinjol) sebab semakin banyak masyarakat yang terjebak utang fintech lending. Bahkan, ada kasus, pengguna pinjol menghabisi nyawanya sendiri karena tak mampu membayar.

Data terbaru menyebutkan utang masyarakat ke pinjol legal pada Mei 2024 sudah mencapai 64,56 triliun rupiah atau melonjak 25,44 persen. Peningkatan drastis utang pinjol tersebut pantas diwaspadai.

Utang berbunga tinggi itu jelas akan membebani masyarakat. Karenanya, banyak kebutuhan mendasar mereka dan keluarganya terpaksa harus diabaikan.

Peneliti Institute for Financial and Economic Studies (IFES), YB Suhartoko mengatakan, meningkatnya utang masyarakat terhadap pinjol karena berbagai hal. Dari sisi penawaran misalnya, pemasaran pinjol bersifat langsung ke individu.

Kemudian Pinjol juga memberi kemudahan persyaratan dalam memberikan pinjaman. "Bunga yang tinggi yang tidak terbayar terakumulasi menyebabkan utang semakin membengkak," ungkap Suhartoko pada Koran Jakarta, Rabu (10/7).

Dari sisi permintaan, terang Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta itu, sangat mungkin pendapatan keluarga yang tidak mencukupi sehingga terpaksa meminjam.

"Gaya hidup masyarakat yang cenderung konsumtif dan tidak sabar dalam berkonsumsi cenderung meningkatkan utang pinjol," paparnya.

Karenanya, menurut Suhartoko, intervensi pemerintah sangat penting, terutama mengatur pembatasan bunga. "Dalam hal penggunaannya kredit yang diberikan untuk kredit konsumtif harus dibatasi. Selanjutnya berkaitan dengan cicilan waktunya harus dibatasi minimal 3 tahun," ujarnya.

Literasi Rendah

Dari Yogyakarta, Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa mengatakan maraknya masyarakat terjebak utang pinjol karena rendahnya literasi keuangan dan digital.

Untuk itu, menurut Awan, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga lembaga terkait lainnya perlu membuat gerakan bersama membangun literasi keuangan digital atau digital financial literacy. Gerakan itu secara intensif mengedukasi masyarakat mengenai risiko dan bahaya utang konsumtif berbunga tinggi melalui platform digital.

Pemerintah bahkan bisa menggandeng perguruan tinggi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau organisasi masyarakat (ormas) agar bisa menjangkau masyarakat

Di samping itu, perlu dorongan inklusi keuangan masyarakat ke lembaga lembaga keuangan berbasis koperasi serta ke sejumlah instrumen investasi, seperti crowdfunding atau peer to peer lending.

"Ini semacam pasar modal tetapi untuk usaha kecil menengah. Caranya dengan menggalang dana dari masyarakat luas (investasi mikro) untuk membiayai usaha mikro kecil. Di Indonesia sudah ada contohnya dan sukses dan tentu terdaftar di OJK," jelas Awan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...

Pasar pangan murah menjangkau warga Jakarta

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

2 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

2 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.