6 Cara Melepas Jerat Batu Bara Indonesia Secara Bertahap
📅 Kamis, 11 Jul 2024, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock
Akbar Bagaskara, Institute for Essential Services Reform
Indonesia memiliki rencana untuk mengakhiri dominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara yang melepaskan gas rumah kaca dan memperparah perubahan iklim.
Sayangnya, pelaksanaan rencana ini masih jauh panggang dari api. Di tengah maraknya narasi transisi energi berkeadilan, Indonesia masih membolehkan PLTU baru beroperasi di luar jaringan PT PLN untuk kebutuhan industri (dikenal dengan PLTU captive) sebesar 6 ribu megawatt (MW). PLN juga merencanakan adanya 39 proyek PLTU baru berkapasitas 13 ribu MW dalam jaringan listriknya hingga 2030.
Rencana ini tak bisa dibiarkan. Emisi sektor kelistrikan kita sudah naik 60% dibandingkan satu dekade silam-dengan rekor tertingginya pada 2022. Membiarkan rencana saat ini berjalan tanpa ada terobosan akan menambah emisi gas rumah kaca, sekaligus polusi yang diakibatkan oleh pembakaran batu bara. Keberadaan PLTU-di luar maupun di dalam jaringan PLN-juga menghambat masuknya listrik energi terbarukan Indonesia yang lebih bersih.
Studi kami bersama Center for Global Sustainability University of Maryland mendapati Indonesia masih berpeluang untuk keluar dari jerat pembakaran batu bara dengan melaksanakan skenario ambisius melalui tujuh strategi secara bertahap. Pemerintah dapat memulai langkah ambisius mengakhiri batu bara dengan melaksanakan tujuh rekomendasi kami, sesegera mungkin. Enam strategi tersebut adalah:
Sebaiknya Anda baca juga:
1. Bahan bakar pendamping
Riset kami mendapati pemakaian bahan bakar tanaman atau biomassa pendamping batu bara (co-firing) seperti pelet kayu, cangkang sawit, dan sebagainya bisa mengurangi pemakaian emisi PLTU.
Kami menganalisis sekitar 103 unit PLTU dalam jaringan PLN dapat menggunakan biomassa mulai 5% mulai tahun ini hingga 57% dari kapasitas total mereka sebesar 5 ribu MW. Dari total 103 unit, ada juga 42 unit PLTU (dengan kapasitas 374 MW) yang bisa menggunakan biomassa seluruhnya pada 2035. Co-firing ini dapat mengurangi emisi cukup signifikan, yakni sekitar 40% dari total emisi per PLTU dalam jaringan PLN pada 2040.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peluang serupa juga datang dari PLTU captive. Riset kami menganalisis setidaknya ada pemakaian biomassa di 80 unit PLTU jenis ini dapat mengurangi 32% emisi pada 2030.
Walau begitu, patut dicatat bahwa strategi co-firing ini hanya berlaku sementara, setidaknya hingga 2030. Setelah itu, emisi dari PLTU harus benar-benar dikurangi dengan berbagai cara misalnya penyambungan jaringan, teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, dan pemakaian energi terbarukan.
2. Pengurangan pemakaian
Studi kami juga mendapati produksi listrik dari 53 unit PLTU dalam jaringan PLN bisa dikurangi secara bertahap. Ini dimulai dari pengurangan ke 40% dari kapasitas pada 2030, ke 35% pada 2040, hingga akhirnya dipensiunkan pada 2050. Sebanyak 53 unit PLTU ini juga perlu kita perbarui agar bisa beroperasi secara fleksibel, seandainya diperlukan untuk memproduksi lebih banyak setrum ke jaringan PLN.
Sementara itu, kami juga mencatat ada 39 unit PLTU yang tak bisa diperbarui. Produksi listrik unit jenis ini juga perlu dikurangi ke 60% saja pada 2030 dan 2035 (tergantung unitnya), kemudian semakin berkurang ke 55% dan 50% dari kapasitas pada 2040 dan 2045.
Strategi ini, berdasarkan perhitungan kami, sangat efektif memangkas 75% emisi PLTU dalam jaringan PLN pada 2030.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!