Keren, Mengolah Lahan Mangkrak Jadi Tambak Nila Salin Ramah Lingkungan
📅 Selasa, 09 Jul 2024, 00:52 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Sinta Ambar
Jakarta - Deru suara kincir serta kucuran air dari atas petak-petak tambak menyambut pengunjung saat menyambangi sebuah klaster tambak seluas 80 hektare di Karawang, Jawa Barat.
Kerumunanikan nila berwarna cerah dengan ramah turut menyapa dan mendekati seakan mengetahui tamu yang dinanti telah tiba.
Di bawah terik Matahari, rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dinakhodai Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono ini menapakkan kaki saat meninjau beberapa petak tambak nila salin.
Sejauh mata memandang, hanya terlihat petak-petak tambak serta rimbunan pohon mangrove yang dihinggapi kuntul, burung berkaki panjang dengan bulu putih, di salah satu sisi tambak.
Tambak yang tertata ini merupakan terobosan proyek percontohan budi daya nila salin (BINS) yang digarap di atas lahan bekas tambak udang yang dibangun era Presiden Soeharto sejak 1984 bernama Proyek Pandu Tambak Inti Rakyat. Proyek ini telah berhenti beroperasi sejak 1998.
Jejak-jejak tambak udang tak beroperasi itu, rupanya meninggalkan residu sehingga menjadi lahan yang terkontaminasi dan berujung menjadi lahan mangkrak selama puluhan tahun.
Memanfaatkan aset negara yang tak lagi berfungsi, sang nakhoda KKP lantas menyulap kawasan tambak itu sebagai lokasi budi daya ikan nila salin.
Sebaiknya Anda baca juga:
KKP memulai upaya dengan memperbarui dan menggunakan tambak ini sebagai lokasi budi daya ikan nila salin.
Nila salin tersebut merupakan terobosan pengembangan varietas nila yang dapat lebih tahan terhadap tingkat salinitas air serta tahan penyakit sehingga cocok dengan lahan tambak yang berada di daerah pesisir dengan jenis air payau. Dikutip dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ikan dengan nama komersial nila salinainidikembangkan sejak 2013.
Dengan menggelontorkan anggaran sebesar Rp76 miliar, Trenggono membangun terobosan proyek percontohan atau yang kerap disebutnyamodelingpada 2023 dengan komoditas unggulan yakni tilapia atau nila salin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Proyek ini telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada awal Mei 2024. Kini pengelolaan dilakukan oleh Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budi Daya (BLUPPB)yang merupakan kepanjangan tangan KKP. Gelontoran anggaran itu pun lantas menyulap bekas tambak udang terbengkalai menjadi tambak yang berpotensi menghasilkan pundi-pundi rupiah serta menyerap tenaga kerja lokal.
Beberapa perubahan pun terjadi kala "tangan dingin"KKP hadir memoles proyek yang terbagi dalam empat kawasan tambak, yakni Blok A, B, C, dan D. Perubahan nyata itu meliputi perbaikan infrastruktur jalan, perkantoran, penerangan, hingga penataan kolam produksi pun dilakukan.
Produktivitas salah satu program prioritas KKP ini diproyeksikan mampu mencapai sekitar 7.020 ton per siklus atau mencapai sekitar Rp210,6 miliar dengan asumsi harga jual nila salin per kilogram Rp30.000 dengan harga pokok produksi Rp24.500 per kilogram. Dengan demikian maka keuntungan yang didapat diprediksi mencapai Rp38,6 miliar.
Benih-benih ikan nila salin hasil produksi Balai Besar Perikanan Budi Daya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, yang ditebarkan itu berkualitas tinggi serta telah diberi vaksin. Nilai us ini diyakininya mampu mengembalikan modal yang digelontorkan dalam kurun waktu 3 tahun.
Nila merupakan satu dari lima komoditas unggulan yang memiliki potensi pasar internasional yang besar.
Menilik data KKP, potensi pasar global nila pada 2024 sebesar 14,46 miliar dolar AS, sedangkan proyeksi pada 2034 diperkirakan mencapai 23,02 miliar dolar AS sehingga tak heran jika komoditas ini dipilih.
Adapun negara tujuan ekspor ikan nila terbesar meliputi Amerika Serikat sebesar 849 juta dolar AS; Meksiko 152 juta dolar AS; Uni Eropa; 130 juta dolar AS; Timur Tengah 128 juta dolar AS; serta Pantai Gading sebesar 73 juta dolar AS.
Dengan peluang pasar global yang terbuka lebar itu, Trenggono pun menargetkanIndonesia setidaknya memiliki satu komoditas yang jumlahnya signifikan dan bernilai tinggi, layaknya Norwegia yang dikenal dunia memiliki komoditas unggulanikan salmon.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!