Beban Berat Perlindungan Anak di Lingkungan Tercemar Sampah
📅 Selasa, 02 Jul 2024, 14:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Koran Jakarta/KPNas
Bagong Suyoto, Ketua Koalisi Persampahan Indonesia (KPNas)
Masih banyak anak yang hidup di wilayah tercemar polutan sampah, seperti pemukiman di tempat pembuangan akhir (TPA).
Puluhan, mungkin ratusan anak hidup di sekitar TPA/TPST Bantargebang, TPA Sumurbatu, TPA Burangkeng, TPA Galuga, TPA Sarimukti, dll. Pada umumnya mereka dalam kondisi ekonomi sosial miskin, kurang pendidikan, dan terbelakang. Nelangsa di atas bumi dan di bawah langit!
Bahkan, anak-anak mengikuti orang tuanya mengais sampah, memilah sampah, membantu mengurus rumah tangga, dll. Ada juga yang bermain di lingkungan tercemar. Anak-anak dan perempuan hamil sangat rentan dengan lingkungan tercemar, karena dampak dari gas-gas sampah, udara kotor, leachate, air minum tercemar, dll. Tentu berimbas pada kesehatan mereka.
Menurut Djoko Heru Martono (BPPT, 2004), gas yang ditemukan dari TPA sebagian besar terdiri dari ammonia (NH3), karbon dioksida (CO2), karbon monookisida (CO), hidrogen (H2), asam sulfida (H2S), metana (CH4), nitrogen (N2), dan oksida (O2). Dari gas-gas tersebut, kandungan terbanyak adalah ammonia (45 - 60%) dan karbon dioksida (40 - 60%).
Sebaiknya Anda baca juga:
Metana dan karbon dioksida merupakan produk dari pembusukan anaerobik dari sampah organik. Jika kandungan metana di udara mencapai 5 - 15%, maka landfill dapat meledak, karena pada kondisi tersebut, jumlah oksigen dalam landfill sangat terbatas. (Djoko Heru Martono, 2004).
Selanjutnya pakar tersebut mengatakan, leachate mengandung beberapa zat dan parameter yang pada kadar tertentu bersifat sebagai pencemar. Zat dan parameter tersebut diantaranya: Amonia nitrat, biological oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), Sulfat, dan pH
Kandungan BOD yang tinggi pada leachate menunjukkan kadarnya pH nya rendah. Kondisi pH rendah/agak asam di bawah kisaran normal akan membuat hewan air menjadi hipersensitif terhadap parasit (mikroba). Hal ini menyebabkan hewan air mengalami gangguan pertumbuhan atau bahkan terancam kehidupannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rasanya miris, masih banyak anak kecil yang membantu orang tuanya mengais, memilah sampah. Bahkan, ketika mengais sampah di TPA/TPST menemukan sisa-sisa makanan, buah-buahan dicomot dan langsung dimakan. Ini bukan fiksi, fakta sejarah kemanusiaan memilukan ketika kita menggembar-gemborkan plank: Menuju Indonesia Emas 2045. Lalu, bagaimana dengan nasib anak-anak di lingkungan tercemar ini? Mereka hidup dalam permainan struktural dan terperangkap framework politik dan kekuasaan yang memiskinkan dan menistakan.
Dalam buku "Potret Kehidupan Pemulung: Dalam Bayangan Kekuasaan dan Kemiskinan" karya Bagong Suyoto disebutkan bagaimana menyelamatkan dan mengarahkan masa depan anak-anak agar tidak terjebak dalam lingkaran kehidupan orang tuannya. Apakah mereka akan mewarisi label orang tuannya sebagai pemulung, pengais sampah? Ada yang menjuluki si gembel. Apakah anak-anak pemulung juga disebut gembel? Harus ada kebijakan yang memihak mereka?
Anak-anak usia 5 sampai 12 tahun seharusnya bermain dalam suasana yang riang gembira. Bermain yang memenuhi standar jasmani dan rohani, tentunya ada ruang memadai dan lingkungan yang sehat. Bagaimana kondisi ruang bermain anak-anak pemulung? Satu persoalan tersendiri bagi keluarga pemulung. Anak-anak tidak dapat menikmati ruang main yang nyaman seperti dirasakan anak-anak pada umumnya.
Dunia anak-anak pemulung adalah sampah. Seperti dunia orang tuannya, ya sampah. Tulang dan dagingnya tumbuh besar berkah penghasilan dari sampah. Sampah tak lagi asing bagi anak-anak ini. Memori anak-anak ini melekat dengan dunia sampah.
Kesedihan dan kegembiraan mereka berada dalam sampah. Kata anak-anak kota sampah menjijikan, sebaliknya, anak-anak pemulung melihat sampah mengasyikan. Bagi mereka terbiasa dengan bau busuk sampah, bau busuk leachate, bau busuk gas methan, dan seterusnya.
Banyak orang tua pemulung dan kaum miskin yang tidak mempedulikan, malah "memenjarakan" anak-anak dalam dunia kerja. Banyak anak yang dipaksa bekerja siang malam sebagai pengais sampah guna menopang ekonomi keluarga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!