Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Nalanda Mahavihara, Universitas Internasional Zaman Kuno

📅 Senin, 01 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Nalanda Mahavihara, Universitas Internasional Zaman Kuno Doc: UNESCO World Heritage

Nalanda Mahavihara adalah sebuah universita di India pada zaman kuno yang menyimpan 9 juta manuskrip. Mahasiswanya berasal dari berbagai negara seperti seperti Jepang, Tiongkok, Indonesia, Iran, Yunani, Mongolia.

Jika institusi Barat memiliki Ivy League, sebutan untuk sejumlah kampus yang mempunyai reputasi terbaik dalam hal kualitas pendidikan dan telah menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas seperti Oxford, Yale, Cambridge, Harvard, maka di India kuno terdapat Nalanda Mahavihara.

Namun, seribu tahun sebelum penjajahan Eropa di seluruh dunia, pusat-pusat pembelajaran Asia seperti Nalanda Mahavihara di Magadha, India, terkenal karena keunggulan akademisnya. Berlokasi sekitar 55 mil tenggara dari Kota Patna, tempat ini memiliki arsitektur pusat biara Buddha yang mirip dengan kota-kota universitas modern yang ada saat ini.

Nalanda Mahavihara sebagai perguruan tinggi itu menyediakan penginapan dan asrama bagi para mahasiswanya. Didirikan pada tahun 427 masehi, Nalanda Mahavihara atau Universitas Nalanda, bertahan selama lebih dari 700 tahun. Institusi pendidikan ini bertahan dari gelombang politik, kebangkitan dan kejatuhan peradaban, perang agama, dan kelahiran para intelektual hebat selama hampir satu milenium sebelum Turki menghancurkannya.

Dalam sebuah pemberitahuan tahun 1917 oleh Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, arkeolog David Spooner merinci penemuan tembok setinggi 24 kaki, 600 meja tanah liat, dan 211 panel batu berukir unik yang mengelilingi Kuil Baladitya yang terletak di Bihar modern.

Penggalian yang dilakukan di sekitar Distrik Nalanda seluas satu kilometer persegi itu dianggap sebagai salah satu keajaiban terindah pada masanya. Artefak antik yang ditemukan di situs Nalanda Mahavihara dikategorikan sebagai benda-benda penggunaan sehari-hari dan bahan ritual perunggu.

Ratusan serpihan bukti arkeologi lainnya digali di dekat Nalanda berupa segel tanah liat, ornamen terakota, dan patung-patung logam ikon Hindu, Jain, dan Buddha. Simbol dan panel dari periode Pala, yang ditemukan oleh Dr Spooner pada tahun 1915, kini dilestarikan di Museum Nalanda.

Beberapa manuskrip dan prasasti juga ditemukan selama penggalian. Para biarawan yang melarikan diri mengawetkan manuskrip tersebut dengan membawanya, tiga di antaranya termasuk folio Dharanisamgraha (1075 M) yang dipajang di Museum Seni Daerah Los Angeles, Astasahasrika Prajnaparamita di pusat Asia Society, dan 139 lembar dan halaman kayu yang dicat yang berada di Museum Yarlung, Tibet.

Legenda mengatakan bahwa tanah untuk pendirian Nalanda Mahavihara dibeli seharga 10 koti (bentuk mata uang lama) keping emas oleh lima ratus pedagang. Mereka menghadiahkan tanah tersebut kepada Sang Buddha yang berkhotbah di bawah Pavarikambavana (kebun mangga Pavarika) selama beberapa tahun.

Sarjana lain menulis bahwa universitas tersebut didirikan oleh Kumaragupta I dari Dinasti Gupta (415-455 M). Kaisar Gupta berikutnya segera berinvestasi dalam pertumbuhan keagamaan dan epistemik universitas tersebut.

Di bawah pemerintahan mereka, bangunan tersebut memiliki delapan biara, 11.000 sel, tiga perpustakaan, dan sekitar 2000 murid yang hadir. Para biksu dan mahasiswa universitas tersebut bertahan hidup berkat kemurahan hati para penguasa saat itu.

Antara tahun 606-647 M, Nalanda memiliki 200 desa di dekatnya berkat bantuan dari banyak generasi raja Pala. Tanah yang diberikan kepada biara-biara India menarik invasi Turki pada abad-abad berikutnya.

Biksu Tiongkok Hiuen Tsang mencatat bahwa aliran pengetahuan intelektual berkembang pesat di Nalanda setelah abad ke-3 atau ke-4 M. Selama ia menjadi mahasiswa, 1.510 guru dan 10.000 biksu hadir untuk belajar di kampus tersebut. Para Indolog dan arkeolog masa kini memperkirakan bahwa jumlahnya berkisar antara 1.000 hingga 4.000, dan para biksu di universitas tersebut mempraktikkan serangkaian adat, ritual, dan tradisi Buddha untuk menghormati Sang Buddha.

Filsuf Tiongkok bernama I-Sing menceritakan prosesnya. Setiap pagi, mereka memulai dengan menabuh gong dan pada malam hari, para biksu berkumpul untuk melakukan chaityavandan. Sarjana Tibet Taranatha menulis dalam catatan perjalanannya tentang perpustakaan tiga gedung dan sembilan lantai Nalanda Mahavihara dimana ada sekitar 9 juta manuskrip tersimpan di sana.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Remake 'The Blair Witch Project' Dijadwalkan Rilis Tahun 2027

59 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Rona
Remake 'The Blair Witch Pro...
Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.