Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Daya Beli Melemah, Target Pertumbuhan Bisa Meleset

📅 Rabu, 26 Jun 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Daya Beli Melemah, Target Pertumbuhan Bisa Meleset Doc: ISTIMEWA
Ket. Eko Listiyanto Wakil Direktur Indef - Pengeluaran konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang pembentukan PDB malah tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi yaitu hanya tumbuh 4,9 persen.

JAKARTA - Indonesia tidak akan mampu mengejar target pertumbuhan ekonomi 7 persen dalam waktu dekat sebagai persyaratan untuk menjadi negara berpendapatan tinggi saat masuk usia emas di 2045. Sulitnya mencapai pertumbuhan 7 persen itu sangat beralasan karena selama ini untuk tumbuh 5 persen saja sudah susah payah, apalagi lebih dari itu.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, dalam diskusi bertajuk Presiden Baru, Persoalan Lama yang digelar Indef di Jakarta, Selasa (25/6), mengatakan sulitnya mendongkrak pertumbuhan itu karena kondisi ekonomi dalam negeri yang sangat rapuh. Dia kurang sepakat jika berbagai persoalan ekonomi yang terjadi selama ini disebabkan dampak dari tekanan ekonomi global.

"Benar nggak masalahnya dari luar? Tampaknya, sumbernya dari kita sendiri. Faktanya, pernah the Fed menurunkan tingkat suku bunganya, tetapi pertumbuhan ekonomi kita begitu-begitu saja," papar Eko.

Dia menyoroti konsumsi rumah tangga yang terus melemah. Padahal, kontribusi konsumsi rumah tangga dalam pertumbuhan ekonomi dominan yaitu 41,28 persen pada triwulan I-2024, namun sangat rentan. Kinerja ekonomi di triwulan I-2024 diselamatkan oleh akselerasi pengeluaran pemerintah.

"Pengeluaran konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) malah tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi yaitu hanya tumbuh 4,9 persen. Konsumsi diyakini semakin melemah seiring dengan rencana pajak pertambahan nilai (PPN) 12 persen pada tahun 2025. Meskipun baru diterapkan tahun depan, tetapi dampaknya sudah mulai terasa sejak sekarang," katanya.

Kondisi yang sama pula dialami sektor manufaktur. Perlambatan di sektor industri manufaktur semakin terlihat memasuki triwulan II-2024, ditandai dengan maraknya penutupan pabrik hingga penurunan penerimaan. Pertumbuhan industri akhir akhir ini selalu di bawah pertumbuhan ekonomi.

"Jika gejolak penutupan pabrik-pabrik di sektor industri manufaktur terus berlanjut dan daya beli masyarakat tidak ada perbaikan, ditambah kinerja ekspor terus menurun, maka pertumbuhan ekonomi bisa meleset dari target APBN," kata Eko.

Stagnasi Penjualan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W Kamdani, mengakui kalau sektor riil juga mengindikasikan pelemahan daya beli masyarakat dan pasar domestik.

"Dari survei roadmap perekonomian Apindo 2024-2029, ada 72 persen yang menjawab terjadinya stagnasi penjualan dan 44,5 persen menegaskan tak akan melakukan ekspansi usaha dalam lima tahun ke depan," urai Shinta.

Ekonomi Indonesia, jelasnya, tergolong high cost dan kurang kompetitif di kawasan. RI merupakan negara dengan biaya energi, biaya logistik, biaya tenaga kerja, dan biaya pinjaman termahal di antara lima negara Asia Tenggara (Asean).

"Dampak high cost ekonomi itu adalah stagnasinya pertumbuhan dan produktivitas manufaktur serta ekspor," tegasnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan dinamika ekonomi global yang semakin membebani produktivitas dan daya saing ekonomi RI. "Pelaku usaha inginnya nilai tukar itu di angka 14.000, kondisi sekarang tentu di luar harapan kami," paparnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.