Bulog Telah Menyerap Beras Lokal Mencapai 700 Ribu Ton
📅 Selasa, 18 Jun 2024, 00:45 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: ANTARA/DEDHEZ ANGGARA
JAKARTA - Perum Bulog telah melakukan penyerapan beras lokal mencapai 700 ribu ton setara beras. Jumlah tersebut melebihi dari yang ditargetkan pemerintah sebanyak 600 ribu ton pada semester 1 di tahun 2024.
"Saat ini kami telah menyerap kurang lebih 700 ribu ton, lebih dari target yang telah ditugaskan oleh pemerintah sebesar 600 ribu ton," kata Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (15/6).
Seperti dikutip dari Antara, Bayu menyampaikan pihaknya optimistis bisa menyerap lebih dari 900 ribu ton setara beras pada tahun ini. "Impor hanya dilakukan bila perlu, melihat neraca beras yang ada," ujar Bayu.
Dia menyebutkan saat ini cadangan beras pemerintah (CBP) yang dimiliki oleh Perum Bulog sebanyak 1,8 juta ton. Dari jumlah tersebut 30 persen berasal dari stok dalam negeri.
"Hal ini tentunya merupakan suatu pencapaian tersendiri, mengingat masa pengadaan dalam negeri yang singkat disebabkan masa panen padi yang pendek sekitar dua sampai tiga bulan," jelas Bayu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk bisa menyerap gabah dalam negeri secara maksimal, lanjut Bayu, pengadaan Perum Bulog memiliki beberapa mekanisme di antaranya pertama adalah membeli gabah dan menunggu di gudang.
"Hal ini hanya bisa dilakukan di 10 sentra penggilingan padi yang dimiliki Perum Bulog di mana kami bisa menyerap gabah dalam jumlah yang cukup banyak," jelasnya.
Jemput ke Petani
Sebaiknya Anda baca juga:
Kedua, membeli gabah dengan cara menjemput ke petani. Kemudian, mekanisme ketiga adalah membeli beras asalan dari penggilingan-penggilingan padi kecil yang dibeli dan diolah sehingga menghasilkan beras sesuai kemauan pasar.
Lebih lanjut, Bayu mengatakan meskipun penyerapan gabah dalam negeri sudah optimal, namun persoalan serius terdapat pada proses produksi.
"Jumlah penduduk bertambah menurut deret ukur, sedangkan produksi pangan bertambah menurut deret hitung. Teori yang dikemukakan oleh Thomas Robert Malthus, saat ini seakan makin nyata dengan berbagai negara di dunia mulai dihantui oleh krisis pangan," tuturnya.
Selain jumlah populasi penduduk yang terus meningkat, lanjut Bayu, krisis iklim, pembatasan ekspor dan kondisi geopolitik, membuat banyak negara harus berkutat dengan persoalan ketahanan pangan.
"Menjawab tantangan, Perum Bulog kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas pangan nasional," jelasnya.
Perum Bulog yang saat ini memiliki fungsi sebagai operator pelaksana kebijakan distribusi pangan yang diregulasi oleh pemerintah, kata Bayu, tentunya mengalami tantangan tersendiri dalam menuntaskan persoalan ketahanan pangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!