Cyril Ramaphosa Terpilih Kembali Sebagai Presiden Afrika Selatan
📅 Sabtu, 15 Jun 2024, 09:35 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: Al Jazeera
JAKARTA - Parlemen Afrika Selatan memilih kembali Cyril Ramaphosa sebagai presiden negara itu menyusul kesepakatan koalisi penting antara Kongres Nasional Afrika (ANC) yang berkuasa dan partai-partai oposisi.
Dilaporkan BBC, pemerintahan persatuan nasional yang baru menggabungkan ANC pimpinan Ramaphosa, Aliansi Demokratik (DA) yang berhaluan kanan-tengah, dan partai-partai kecil.
Dalam pidato kemenangannya, Ramaphosa memuji koalisi baru tersebut, dan mengatakan para pemilih mengharapkan para pemimpin untuk "bertindak dan bekerja sama demi kebaikan semua orang di negara kita".
Kesepakatan dicapai pada hari yang penuh drama politik, di mana Majelis Nasional melakukan pemungutan suara hingga larut malam guna mengkonfirmasi siapa yang akan memegang kekuasaan dalam pemerintahan baru.
Sebelumnya, kesepakatan dicapai setelah berminggu-minggu muncul spekulasi mengenai siapa yang akan menjadi mitra ANC setelah kehilangan mayoritas di parlemen untuk pertama kalinya dalam 30 tahun pada pemilu bulan lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
ANC memperoleh 40 persen suara, sedangkan DA berada di urutan kedua dengan 22 persen.
Sekretaris Jenderal ANC Fikile Mbalula menyebut kesepakatan koalisi sebagai "langkah luar biasa".
Hal ini berarti Ramaphosa mampu mempertahankan kekuasaan. Ramaphosa menggantikan Jacob Zuma sebagai presiden dan pemimpin ANC setelah perebutan kekuasaan yang sengit pada tahun 2018.
Sebaiknya Anda baca juga:
Langkah selanjutnya, Ramaphosa mengalokasikan posisi kabinet, yang akan mengakomodir anggota DA.
Kesepakatan multi-partai tidak melibatkan dua partai yang memisahkan diri dari ANC, dan mereka mungkin akan mendapatkan keuntungan jika kesepakatan tersebut gagal menghasilkan perbaikan ekonomi yang diminta oleh para pemilih.
Namun jajak pendapat menunjukkan banyak warga Afrika Selatan yang menginginkan koalisi besar yang belum pernah terjadi sebelumnya ini berhasil.
ANC selalu meraih suara di atas 50 persen sejak pemilu demokratis pertama di negara itu pada 1994, dimana Nelson Mandela terpilih menjadi presiden.
Namun, dukungan terhadap partai tersebut menurun secara signifikan karena kemarahan publik atas tingginya tingkat korupsi, pengangguran dan kejahatan.
Saat berpidato di depan parlemen Afrika Selatan setelah pengukuhannya, Ramaphosa mengenang kemenangan presiden pertama partainya 30 tahun lalu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!