Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penurunan Angka Kemiskinan Spasial Masih Sulit Diatasi

📅 Rabu, 12 Jun 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Penurunan Angka Kemiskinan Spasial Masih Sulit Diatasi Doc: ISTIMEWA
Ket. Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA - Pemerintah mengakui jika penurunan angka kemiskinan di Indonesia secara spasial masih menjadi tantangan besar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD RI di Jakarta, Selasa (11/6), mengatakan di mayoritas provinsi, angka kemiskinan telah berada di bawah level sebelum Covid-19.

Pulau Jawa dan Bali sendiri mengalami peningkatan angka kemiskinan pada tahun 2019 dan 2023. Pulau Jawa menunjukkan peningkatan dari 8,4 persen menjadi 8,79 persen dan Pulau Bali dari 3,8 persen menjadi 4,25 persen.

Namun demikian, tingkat kemiskinan di Jawa dan Bali, papar Menkeu, berada di bawah level 10 persen. Sama halnya dengan Kalimantan dan Sumatra yang juga mencatatkan tingkat kemiskinan di bawah 10 persen. Sementara pulau lainnya masih melampaui level tersebut.

Tingkat kemiskinan tertinggi terjadi di Papua dan Nusa Tenggara, masing-masing sebesar 24,76 persen dan 16,99 persen pada 2023. Sedangkan tingkat kemiskinan di Maluku tercatat pada level 12,29 persen dan Sulawesi 10,08 persen.

Pemerintah terus berupaya menekan tingkat kemiskinan, terutama seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2025, Kementerian Keuangan menargetkan tingkat kemiskinan secara nasional dapat ditekan hingga ke level 7 sampai 8 persen, dari data terakhir 9,36 persen pada 2023 dengan menganggarkan dana dari APBN berkisar 496,9 triliun hingga 513,0 triliun rupiah.

Anggaran rencananya akan digunakan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan antardaerah. Adapun langkah yang akan ditempuh, di antaranya mempercepat graduasi pengentasan kemiskinan, peningkatan akses pembiayaan untuk rumah layak huni dan terjangkau, mendorong petani makmur, nelayan sejahtera, termasuk mempercepat desa mandiri.

Menanggapi hal itu, Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi, Universitas Airlangga Surabaya, Bagong Suyanto, mengatakan langkah paling realistis untuk menjawab persoalan tantangan kemiskinan di Indonesia adalah dengan melakukan pemberian subsidi berupa aset karena memiliki sifat yang berkelanjutan.

"Faktor penyebab kemiskinan di Indonesia bersifat struktural, dengan dikuasainya usaha-usaha oleh kaum elite, sehingga menghalangi kesempatan masyarakat ekonomi menengah ke bawah untuk naik," katanya.

Cara yang paling realistis dalam upaya pengentasan kemiskinan adalah dengan melakukan pemberian subsidi berupa aset, bukan dana modal yang cepat habis. Aset merupakan bantuan yang tepat untuk memutar perekonomian kaum menengah ke bawah karena lebih sustainable. Pembagian subsidi tersebut harus didukung proses pendataan yang valid supaya jangan salah sasaran.

Dari Jakarta, peneliti ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet, mengatakan kalau kita berbicara kemiskinan dan pola spasial, memang pendekatan kebijakannya lebih kompleks karena intervensi kebijakan tidak hanya dilakukan dari sisi pemerintah pusat, tetapi juga aktifnya pemerintah daerah.

Beberapa komponen belanja yang disalurkan oleh pemerintah pusat sebenarnya memang mencoba menjadi solusi terkait permasalahan kemiskinan terutama dalam sisi spasial. Namun demikian, dalam konteks terbatasnya ruang fiskal di level pusat, pada akhirnya pemerintah daerah pun harus siaga untuk merancang kebijakan lokal fiskal untuk memitigasi masalah kemiskinan tersebut.

Belanja pemerintah daerah (pemda) pun harus dirancang linear dengan kebijakan pemerintah pusat terkait penanganan kemiskinan.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB. Suhartoko, mengatakan penurunan tingkat kemiskinan spasial menjadi tantangan yang cukup berat untuk diperbaiki, karena pengalaman pembangunan yang selama ini berorientasi ke Jawa atau Indonesia bagian barat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.