Menyusuri jejak peradaban Sungai Citarum dari hulu ke hilir
📅 Minggu, 09 Jun 2024, 15:55 WIB | Oleh: Arif
Doc: ANTARA/Rubby Jovan
Bandung- Sungai Citarum, urat nadi kehidupan bagi jutaan masyarakat Jawa Barat, menyimpan kisah panjang peradaban yang terukir di sepanjang alirannya.
Dari hulu di Gunung Wayang hingga muaranya di Laut Jawa, Citarum menjadi saksi bisu perjalanan manusia, budaya, dan kerajaan-kerajaan besar di masa lampau.
Sungai Citarum telah melalui berbagai fase kehidupan. Ratusan ribu tahun yang lalu, terjadi peristiwa letusan sebuah gunung purba berjuluk Gunung Sunda.
Letusannya begitu kuat sehingga gunung itu pun lenyap dan mengubah bentang alam wilayah di sekitarnya bekas kaldera Gunung Sunda menjadi Danau Bandung Purba, sedangkan di timurnya kemudian berkembang Gunung Tangkuban Parahu.
Pada masa-masa setelahnya, Danau Bandung Purba secara berangsur terbagi dan menyusut. Debit airnya kemudian menjadi bagian dari aliran Sungai Citarum.
Bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang alirannya, Citarum bukan hanya sungai biasa. Citarum adalah sumber kehidupan, budaya, dan identitas. Airnya mengairi sawah, menggerakkan roda industri, dan menjadi sumber air minum bagi jutaan penduduk.
Citarum telah menjadi saksi bisu perkembangan peradaban di wilayah Jawa Barat. Sungai ini bukan hanya penting sebagai sumber air, melainkan juga sebagai penghubung berbagai budaya dan aktivitas manusia sepanjang masa.
Namun, Citarum juga menghadapi berbagai tantangan. Pencemaran dan kerusakan lingkungan yang menjadi ancaman serius bagi kelestarian akan kebudayaan dari sungai ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal ini yang membuat Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Provinsi Jawa Barat menggagas jejak pelestarian budaya yang bertajuk Cerita Citarum dengan melibatkan pegiat budaya, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hingga tokoh adat setempat.
Cerita Citarum sendiri merupakan sebuah catatan perjalanan ekspedisi dengan menyusuri peninggalan budaya dari hulu di Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, hingga hilir tepat di Muara Pakis, Kabupaten Karawang, yang telah membentuk berbagai warisan budaya yang ada hingga saat ini.
Tersembunyi di balik rimbunnya hutan lindung di kaki Gunung Wayang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terdapat sebuah danau menawan bernama Situ Cisanti. Keindahan alamnya yang memesona bukan satu-satunya daya tarik Situ Cisanti.
Danau ini menyimpan sejarah panjang dan menjadi titik awal peradaban yang dialiri oleh nadi kehidupan, Sungai Citarum.
Situ Cisanti dikelilingi oleh panorama alam yang asri dan menyejukkan mata. Hutan lindung yang rimbun menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna. Danau ini merupakan hulu Sungai Citarum, sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat, yang dikenal sebagai "Ibu Citarum" yang memiliki luas kurang lebih 5 hektare dan berada di lahan seluas 10 hektare di Kawasan Perhutani.
Situ Cisanti menampung tujuh aliran mata air yaitu Pangsiraman, Cikoleberes, Cikawadukan, Cikahuripan, Cisadana, Cihaniwung, dan Cisanti, mengalir sepanjang 297 kilometer, mengairi sawah dan menjadi sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi masyarakat Sunda, Situ Cisanti memiliki nilai spiritual yang tinggi. Di sini, terdapat petilasan Prabu Siliwangi, raja Sundalegendaris. Konon ia bertapa di tempat ini sebelum masuk Islam. Legenda lain menceritakan tentang Dipati Ukur, seorang panglima perang Sunda yang bersembunyi di Situ Cisanti saat dikejar oleh pasukan Belanda.
Sebagai hulu Sungai Citarum, Situ Cisanti memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kebersihan danau dan sekitarnya, seperti revitalisasi air danau, edukasi bagi masyarakat dan wisatawan, serta penanaman pohon hingga ikan di kawasan danau.
Sekretariat Satgas Citarum, Sandhi Firmansyah, menyampaikan bahwa revitalisasi Situ Cisanti merupakan kelanjutan dari SK Menteri Kehutanan Nomor 195 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa status Gunung Wayang sebagai hutan lindung yang perlu dilestarikan.
Selanjutnya tepat pada Februari 2018 kawasan tersebut dilakukan pembersihan oleh TNI sebagai program Citarum Harum yang digagas oleh Pemerintah Pusat kala itu.
"Dulu airnya agak kehijauan karena banyak eceng gondok tumbuh, tetapi sejak 2018, para petugas dari TNI yang membersihkan kawasan Situ Cisanti juga menanam bibit ikan mas dan mengeluarkan aturan tidak diperbolehkan adanya aktivitas memancing untukmenjaga kelestariannya," kata dia.
Meskipun ada tantangan, harapan untuk menjaga keasrian Situ Cisanti tetaplah besar. Dengan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, Situ Cisanti dapat dilestarikan sebagai sumber kehidupan, budaya, dan wisata bagi generasi sekarang dan masa depan.
Citarum pernah jadi jalur perdagangan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!