Wacana ‘Student Loan’ Perlu Dikaji Ulang, Apa Alasannya?
📅 Kamis, 06 Jun 2024, 12:00 WIB | Oleh: Tim PenulisMahasiswa yang memiliki pinjaman saat menempuh studi memiliki kondisi berbeda dengan mahasiswa yang tidak memiliki tanggungan utang di masa depan. The Consumer Financial Protection Bureau (CFPB), lembaga pemerintah Amerika Serikat (AS) yang bertugas memastikan pelanggan diperlakukan secara adil oleh bank, pemberi pinjaman, dan lembaga keuangan lainnya, mendefinisikan tekanan keuangan sebagai respons emosional negatif yang dialami seseorang ketika situasi keuangan menghadapkan mereka pada ketidakpastian.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa mahasiswa yang mengalami tekanan finansial terbukti lebih sering mengalami permasalahan kesehatan mental dalam jangka pendek dan jangka panjang. Di samping itu, fakta lainnya adalah bahwa mereka cenderung mengabaikan perawatan medis.
Selain itu, mahasiswa yang mengalami tekanan finansial berkorelasi dengan efikasi diri finansialnya, yaitu kondisi ketika mereka tidak memiliki keyakinan terhadap diri dalam aspek kemampuan finansial.
Konsekuensi finansial lulusan
Sebaiknya Anda baca juga:
Sistem pembayaran pinjaman yang dibayarkan setelah lulus menjadi beban tersendiri bagi lulusan. Jumlah cicilan yang disesuaikan dengan pendapatan berdampak pada lama masa pembayaran pinjaman. Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa rata-rata mahasiswa yang masuk tahun 2023 baru bisa menyelesaikan pinjaman selama 40 tahun. Ini setara dengan seluruh masa kerja mereka.
Persoalan lain muncul ketika lulusan yang mendapatkan gaji relatif kecil, lebih berisiko mengalami masalah pembayaran utang. Rasio utang terhadap gaji yang tinggi ditemukan di program seni di universitas ternama di AS. Semakin tinggi rasio utang terhadap gaji, maka semakin besar risiko untuk gagal bayar.
Pinjaman pendidikan menjadi sumber permasalahan baru ketika lulusan terjebak oleh pendapatan rendah dan utang yang meningkat. Konsekuensi finansial mengikuti para lulusan karena harapan mereka untuk hidup lebih baik setelah berkuliah tidak terpenuhi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para lulusan juga cenderung mengalami berbagai tekanan jika tidak dapat segera menyelesaikan pinjaman. Ini menimbulkan dampak turunan seperti menunda menikah dan memiliki anak. Dalam hal kepemilikan properti, para lulusan yang berutang memilih untuk menunda kepemilikan rumah sampai kewajibannya terlunaskan.
Utang yang dibebankan pada generasi muda tidak hanya berdampak pada aspek finansial pribadinya, tapi juga berdampak pada kehidupan keluarga yaitu pernikahan yang bermasalah dan beban keuangan keluarga yang berlebihan hingga masa pensiun.
Perlu dikaji ulang
Pemerintah perlu mengkaji ulang rencana kebijakan bantuan pendidikan ini karena beberapa alasan. Pertama, terkait dengan efektivitas dan efisiensi penyaluran dana. Dalam sejumlah kasus, bantuan pendidikan dari pemerintah sering tidak tepat sasaran. Di media sosial, sejumlah mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) bergaya hidup mewah dan memunculkan pertanyaan apakah bantuan keuangan dari pemerintah sudah tepat sasaran, meski ada pula penerima beasiswa yang berprestasi.
Kasus perguruan tinggi yang terang-terangan bekerja sama dengan platform pinjaman online untuk pembayaran kuliah mahasiswa juga perlu menjadi bahan evaluasi. Jangan sampai pinjaman pendidikan hanyalah bentuk lain dari kasus tersebut sehingga memunculkan masalah baru.
Kedua, beban finansial jangka panjang. Meski pinjaman mahasiswa dapat membantu menutupi biaya pendidikan dalam jangka pendek, beban utang yang harus dibayarkan setelah mahasiswa lulus bisa menjadi masalah serius. Mahasiswa yang lulus dengan beban utang dapat menghadapi kesulitan finansial yang pada akhirnya menghambat perkembangan karier dan ekonomi mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!