Menelusuri Penyebab Kekalutan Remaja Lewat 'Saat Menghadap Tuhan'
📅 Minggu, 02 Jun 2024, 22:22 WIB | Oleh: Ones
Doc: antara
"Ketika ada yang minta tolong, kita diam saja dengan alasan itu bukan anak-anak kita,"
"Ketika ada masalah yang bisa kita selesaikan bersama, kita memalingkan muka karena itu bukan urusan kita,"
Pesan itu merupakan bentuk kegelisahan dari seorang sutradara bernama Rudy Soedjarwo, terhadap kondisi remaja di Tanah Air, saat ini.
Selama lebih dari 25 tahun berkarya, Rudy mengaku miris karena para remaja harus mengalami berbagai momok mengerikan, seperti perundungan, kekerasan seksual, gangguan kesehatan mental, sampai dampak atas kesalahan pola asuh dalam keluarga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masalah-masalah tersebut pun telah menjadi "makanan" sehari-hari yang disaksikan masyarakat di berbagai platform media sosial.
Alhasil, muncul sisi gelap dalam diri anak muda yang tak jarang menyesatkan mereka untuk mengambil sebuah keputusan yang salah, bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah.
Sisi gelap itulah yang ingin ia tampilkan betul dalam film terbarunya, berjudul "Saat Menghadap Tuhan".
Sebaiknya Anda baca juga:
Menampilkan empat tokoh utama bernama Damar (Rafi Sudirman), Gito (Abielo Parengkuan), Nala (Denisha Wahyuni) dan Marlo (Dede Satria), penikmat film bakal mengikuti perasaan kalut dan cara mereka dalam menghadapi masalah masing-masing.
Intinya, semua berangkat dari satu sumbu yang sama. Sumbu itu biasa kita sebut dengan nama "penyesalan".
Perasaan terpendam
Dalam adegan pembuka, kita diajak untuk merasakan kembali suasana di sekolah yang bangunannya dapat dikatakan amat sederhana. Ada guru yang mengajar dan anak-anak duduk sambil memperhatikan.
Tak lama bel sekolah dibunyikan, sebagai tanda waktu pembelajaran usai. Masuklah adegan dimana Damar dan Gito yang merupakan teman sedari kecil, duduk di balkon atas sebuah bangunan tua sambil bermain saksofon.
Pada adegan ini penikmat film diperlihatkan betapa besar kecintaan Damar untuk menjadi pemain saksofon profesional, meneruskan jejak sang ayah yang telah meninggal dunia. Sebagai bentuk dukungan, Gito merekamnya dengan sebuah kamera kecil.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!