Menelusuri Penyebab Kekalutan Remaja Lewat 'Saat Menghadap Tuhan'
📅 Minggu, 02 Jun 2024, 22:22 WIB | Oleh: OnesMeski menjadi sahabat, keduanya menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Damar bisa dikatakan tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Walaupun karakternya digambarkan sebagai remaja yang setia kawan, senang mengamati sekitar dan peduli terhadap sesama, namun insiden mengerikan yang ia alami ketika kecil membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang suka memendam perasaan, layaknya "bom waktu".
Tak jarang dalam beberapa adegan kita bakal diperlihatkan perilaku ibunya yang cemas dan khawatir anaknya melakukan hal buruk tanpa diketahui.
Sementara Gito, merupakan sosokn dengan karakter yang bisa dibilang mempunyai kehidupan yang paling biasa dibandingkan teman-temannya. Ia anak yang gemar bermain kamera, selalu berada di sekitar Damar, lembut dan amat sabar.
Sayangnya, akibat tidak adanya komunikasi yang baik dengan kedua orang tuanya yang telah bercerai membuat Gito selalu merasa sendirian dan menjadi sasaran perundungan Marlo dan teman-temannya di sekolah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menariknya, masalah yang menimpa mereka justru mempererat persahabatan keduanya, termasuk dengan Nala, seorang anak perempuan yang merasakan kebungkaman keluarga saat ia harus menjadi korban kekerasan seksual.
Bersama dengan sang adik, Maya (Cindy Sebastiani), Nala banyak menghabiskan masa remaja yang indah dengan Damar dan Gito. Alur pertemanan yang dibumbui dengan sedikit romansa antartokoh membuat tiap adegan empat sekawan ini seperti menampilkan adanya harapan di tengah kesengsaraan.
Secercah harapan itu juga ditampilkan lewat sosok salah satu guru di sekolah, Kak Is (Alit Aryani Willems), yang berupaya melindungi para siswa lewat orasi heroiknya di kalangan guru maupun komunikasi dua arah dengan orang tua yang bersangkutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kekalutan dan amarah
Bukan Rudi namanya, kalau dalam karyanya tidak menyelipkan adegan menohok dengan dialog yang kuat.
"Ketika kita yang kena musibah, dunia diam seakan itu tidak ada,"contohnya.
Kehadiran Marlo sebagai anak tunggal dari salah satu donatur terkaya di yayasan sekolahnya, membuatnya tumbuh sebagai sosok angkuh, semena-mena dengan emosi yang tidak stabil.
Sikap ayahnya yang selalu mengintimidasi serta mengecilkan kepercayaan diri Marlo, mendorongnya untuk melakukan hal serupa kepada sejumlah siswa lain. Sosok Marlo inilah yang mempertajam perasaan kalut dan amarah di dalam hati Damar maupun Gito.
Perundungan yang dilakukan oleh Marlo digambarkan dengan cara yang tepat. Sebagaimana sifat remaja yang cenderung labil, ia mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!