Pertumbuhan Berkualitas Hanya Bisa Tercapai jika Fokus ke Ekonomi Padat Karya
📅 Jumat, 17 Mei 2024, 00:08 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES
JAKARTA - Indonesia perlu mendongkrak kinerja sektor industri untuk menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi ke depan. Selain dongkrak kinerja industri, pemerintah juga harus mendorong iklim kompetisi di Indonesia semakin membaik.
Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rizal Edi Halim, menilai Indonesia terlambat mendorong industrialisasi. Padahal jika dari dulu dilakukan, hasilnya sudah dinikmati sekarang.
"Seharusnya sejak lama kita mendorong industrialisasi agar meningkatnya multiplier effect, nilai tambah barang yang kita produksi," tegas Rizal.
Industrialisasi kita, terangnya, memang masih belum maksimal dengan berbagai tantangan tentunya faktor produksi, seperti tenaga kerja, regulasi, situasi politik, dan sebagainya sangat berdampak pada perkembangan industri nasional.
"Kalau dikatakan industrialisasi sebagai sektor pendorong mestinya sejak lama kita sudah melewati proses industrialisasi tersebut, sehingga kita tidak hanya berada pada perdagangan bahan mentah, bahan baku, tetapi sudah ada nilai tambah," urai Rizal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia menekankan bahwa sektor industri harus menjadi pemberi nilai tambah bagi perekonomian Indonesia karena nantinya bakal berdampak pada sektor-sektor yang lain.
Sebelumnya, Ekonom Utama Departemen Riset Ekonomi dan Kerja Sama Regional Bank Pembangunan Asia atau Asian Developmenta Bank (ADB), Arief Ramayandi, di Jakarta, Kamis (16/5), mengatakan ADB memprediksi Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen pada 2024 dan 2025 dengan penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB) masih konsumsi rumah tangga, sedangkan kontribusi ekspor pada tahun ini diperkirakan masih lemah.
Masih lemahnya ekspor, jelas Arief, sebagai imbas dari gejolak perekonomian global, yang dampaknya tidak hanya dirasakan Indonesia, namun juga oleh berbagai negara lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kendati masih melemah, dia menilai kondisi ekspor telah melewati masa-masa krusial dan mulai menunjukkan pemulihan, meski belum cukup memadai untuk menjadi andalan pertumbuhan PDB.
"Permintaan domestik akan menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan dan menghilangkan dampak negatif dari net ekspor," kata Arief.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I-2024 yang tercatat 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy), menjadi yang tertinggi sejak tahun 2015.
Dari segi besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku tercatat sebesar 5.288,3 triliun rupiah, sedangkan PDB Atas Dasar Harga Konstan mencapai 3.112,9 triliun rupiah.
Secara sektoral, penyumbang utama ekonomi triwulan I-2024 dari sisi produksi berasal dari industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, serta pertambangan dan penggalian.
Kelima sektor tersebut menyumbang pertumbuhan ekonomi secara positif dengan total kontribusi mencapai 63,61 persen persen terhadap PDB.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!