Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ekonomi Biru Harus Jadi Prioritas Wujudkan Ketahanan Pangan

📅 Senin, 13 Mei 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ekonomi Biru Harus Jadi Prioritas Wujudkan Ketahanan Pangan Doc: Sumber: BAPPENAS

JAKARTA - Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyatakan Indonesia patut mempertimbangkan konsep ekonomi biru (the blue economy) sebagai prioritas untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, dalam keterangannya akhir pekan lalu, menyatakan ekonomi biru yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya laut atau perairan secara berkelanjutan memiliki peran penting dalam mengurangi kelaparan dan kekurangan gizi. Dia juga menilai ekonomi biru akan berkontribusi pada transformasi sistem pangan di Indonesia.

Sementara itu, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Fredinan Yulianda, menyoroti pentingnya adopsi teknologi terkini, peningkatan keterampilan sumber daya manusia, dan menjaga keselarasan dengan alam dalam mewujudkan budi daya perikanan yang terpadu.

Dihubungi terpisah, Guru Besar Fakultas Perikanan Univeritas Gadjah Mada (UGM), Suadi, mengatakan ada dua perspektif blue economy yang berkembang saat ini. Namun, dalam banyak praktik mutakhir dijadikan menjadi satu sehingga benar-benar tercipta ekonomi biru yang singular atau berkelanjutan.

Perspektif pertama dalam konteks ekonomi bisnis dan pembangunan di mana laut dilihat sebagai mesin penggerak ekonomi baru. Dalam SDGs pun kehidupan bawah laut menjadi salah satu tujuan baru pembangunan yang bisa menjadi jawaban dari masalah ekonomi dunia.

"Dalam konteks ekonomi bisnis wilayah Indonesia itu 70 persen lautan. Potensinya belum tergali, bahkan baru dari satu komoditas saja, seperti benur lobster, menghasilkan triliunan dalam setahun," kata Suadi.

Perspektif kedua mengenai blue economy yang dikembangkan inovator dunia bernama Gunter Paoli, hal itu merujuk pada proses ekonomi baik di darat maupun di laut yang menghasilkan limbah minimal atau nirlimbah.

Praktik-praktik mutakhir menggabungkan kedua perspektif tersebut sehingga laut sebagai mesin penggerak ekonomi baru dikembangkan dengan cara berkelanjutan dan menghindari cara-cara produksi ekonomi darat yang selama ini selalu menghasilkan limbah yang menjadi PR baru bagi ekonomi.

"Indonesia dengan luas wilayah lautan 70 persen dan darat 30 persen semestinya bisa segera mempraktikkan blue economy sesuai tren di dunia saat ini yang menuntut praktik ekonomi baru yang berkelanjutan.

Tekan Impor Daging

Sementara itu, pengamat pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat, mengatakan sebagai negara maritim, potensi pengembangan blue economy sangat besar dan dapat menjadi solusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan, khususnya sumber protein sekaligus menekan impor daging. "Potensi pengembangan blue economy atau blue food sangat nyata karena potensi tangkapan ikan kita sangat besar. Selain itu, masyarakat sendiri sudah banyak yang menjadi nelayan sehingga banyak benefit dari pengembangan jenis ekonomi itu," katanya.

Dengan blue economy, kebutuhan protein yang sebagian masih diimpor bisa diatasi. Kalau masyarakat sudah gemar makan ikan secara perlahan, akan ada pergeseran, tidak ada alasan lagi untuk impor daging. Di sini, nelayan dan konsumen sama-sama untung karena penghasilan nelayan akan naik, perekonomian rakyat lebih sehat, sedangkan konsumen belanja lebih hemat karena harga ikan lebih murah dari pada daging.

Dampak ekonominya pun pasti lebih baik. Pemerintah tinggal meningkatkan dan memperluas program pemberdayaan nelayan dan memberantas ilegal fishing. "Dengan tren lonjakan penduduk, bagaimanapun sumber daya laut yang melimpah adalah masa depan pangan kita, khususnya untuk memenuhi kebutuhan protein," kata Ramdan.

Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, sepakat bahwa ekonomi biru sangat potensial dikembangkan selain untuk pemenuhan gizi, sektor perikanan dan maritim, juga memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Bunga Tinggi The Fed Bikin Mental Rupiah Keder

35 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Ekonomi
Bunga Tinggi The Fed Bikin ...

Perluasan Pasar Bisa Melalui Mekanisme Digital

40 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perluasan Pasar Bisa Melalu...

Pembangunan SDM, Sekolah-sekolah di Tangsel Bersifat Inklusif

42 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Pembangunan SDM, Sekolah-se...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp71.600/...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.