Pangan Global Semakin Mengkhawatirkan
📅 Sabtu, 11 Mei 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiGuru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Masyhuri, mengatakan Bapanas harus fokus membuktikan diri bisa meningkatkan produksi pangan Indonesia. Sebab, baru saja pada tahun lalu, Indonesia kekurangan banyak stok pangan, beras sampai sayuran, dan harus menambah kuota impor hingga puluhan ribu ton, bahkan lebih dari tiga juta ton beras.
"Problem produksi ini apa strategi dan programnya. Kemarin El Nino saja tidak siap. Nanti alasan apalagi. Menyangkut pascaproduksi memang penting, tapi produksinya dulu yang diberesin," kata Masyhuri.
Berkaitan dengan penyimpanan hasil panen, Indonesia sudah berkali-kali mencobanya dengan berbagai macam metoda, namun hingga saat ini belum terbukti ada yang berhasil.
"Di masa lalu, pemerintah punya sistem subterminal agri bisnis, tapi gagal. Di masa Jokowi, pemerintah punya sistem membangun gudang dan petani bisa menitipkan panennya secara fisik, juga gagal berjalan. Terakhir Sistem Resi Gudang (SRG) juga tak tampak membuah hasil," kata Masyhuri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Problem utamanya ada di para petani yang tidak tertarik untuk menggunakannya. Sepanjang tahun lalu, petani bahkan tidak punya stok untuk disimpan karena pasar kekurangan stok.
Begitu juga di perikanan, cold storage yang sangat dibutuhkan nelayan sampai saat ini juga belum ada yang terbukti sukses, kecuali milik swasta yang fokus pada pasar ekspor.
"Perlu banyak pembenahan di produksi dulu, baru kemudian soal sistem gudang dan cold storage," kata Masyhuri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dihubungi terpisah, peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan perlu adanya koneksitas pelaku dan data produksi, distribusi, dan konsumsi pangan nasional. Koneksitas antara petani, pedagang, dan konsumen (buruh) di antaranya dengan mengembangkan koperasi multipihak di sektor pangan.
Adapun teknisnya, terang Awan, koperasi harus dimiliki oleh kelompok/ koperasi yang terkait dengan rantai pasok pangan, seperti halnya petani, pedagang, konsumen, dan sebagainya.
"Hal ini supaya ada koneksitas antarpihak yang menjadi basis produksi, harga, dan pasar," ungkapnya
Sementara itu, peneliti Celios, Nailul Huda, mengatakan peran BUMN, khususnya Bulog, bukan hanya menjadi offtaker ketika produksi tinggi (masa panen), namun juga sebagai penyalur ke konsumen ketika harga rendah. Masalahnya adalah ketika memasuki masa tanam, penyerapan Bulog sangat rendah.
Secara bisnis, papar Huda, Bulog tidak dapat bersaing dengan perusahaan beras swasta. "Kemampuan Bulog menyerap dengan harga setara dengan swasta sangat kurang. Karena penyerapannya anjlok, stok di Gudang Bulog menipis," kata Huda.
Swasta, kata Huda, melihat situasi tersebut sebagai peluang untuk mengatrol harga. Harga di konsumen jadi naik dan Bulog tidak punya cukup kekuatan untuk menambah pasokan di pasaran. Harga pun semakin tidak terkendali. "Jadi, tantangan sebenarnya di dalam negeri yang kusut di Bulog dan Bapanas," ungkap Huda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!