Banjir Besar di Brazil Tewaskan 78 Orang, Ribuan Warga Mengungsi
📅 Senin, 06 Mei 2024, 14:51 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/REUTERS/Renan Mattos
PORTO ALEGRE - Pihak berwenang di Brazil selatan pada Minggu (5/5) bergegas menyelamatkan orang-orang dari amukan banjir dan tanah longsor dalam bencana iklim terbesar yang pernah terjadi di kawasan ini. Sedikitnya 78 orang tewas dan 115.000 orang terpaksa mengungsi.
Seluruh kota terendam. Ribuan orang terjebak banjir yang disebabkan oleh hujan lebat selama berhari-hari.
Di Porto Alegre, ibu kota negara bagian Rio Grande do Sul, warga berdiri di atas atap rumah sambil berharap bisa diselamatkan. Warga lainnya yang menggunakan kano atau perahu kecil menyusuri jalanan yang telah menjadi sungai.
Setelah bencana akibat perubahan iklim dan efek El Nino, lebih dari 3.000 tentara, petugas pemadam kebakaran, dan petugas penyelamat lainnya berusaha menjangkau warga yang terjebak di rumah-rumah mereka tanpa air bersih atau listrik.
Pejabat pertahanan sipil mengatakan, sedikitnya 105 orang hilang dalam serangkaian bencana cuaca buruk yang menimpa raksasa Amerika Selatan itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kelihatannya seperti adegan perang, dan setelah perang selesai, ini memerlukan pendekatan pascaperang," kata Gubernur Rio Grande do Sul Eduardo Leite, didampingi Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva dan beberapa menterinya.
Lula berjanji pemerintah akan menyediakan semua sumber daya yang diperlukan untuk rekonstruksi.
Selain Porto Alegre, 341 kota dan desa lainnya dilanda banjir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tentara mendirikan rumah sakit lapangan setelah ratusan pasien harus dievakuasi dari rumah sakit biasa. Warga sipil juga membentuk kelompok sukarelawan untuk mengumpulkan persediaan dasar, termasuk jaket pelampung, air dan bahan bakar.
"Setiap orang membantu dengan caranya masing-masing, semampu mereka," kata Luis Eduardo da Silva, seorang sukarelawan berusia 32 tahun.
Sungai Guaiba, yang mengalir melalui kota berpenduduk 1,4 juta orang, mencapai rekor ketinggian 5,3 meter, menurut pemerintah kota setempat, jauh di atas rekor 4,76 meter sejak banjir tahun 1941.
"Rio Grande do Sul selalu menjadi titik pertemuan antara massa udara tropis dan kutub," kata ahli iklim Francisco Eliseu Aquino kepada AFP.
"Tetapi interaksi ini semakin intensif seiring dengan perubahan iklim" sehingga menciptakan "bencana yang membuat atmosfer semakin tidak stabil dan mendorong terjadinya badai."
Pihak berwenang bergegas mengevakuasi lingkungan yang terendam banjir ketika petugas penyelamat menggunakan kendaraan roda empat - dan bahkan jet ski - untuk bermanuver melalui perairan setinggi pinggang untuk mencari mereka yang terdampar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!