Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kisah Orang Alor Beradaptasi dengan Perubahan Iklim 43 Ribu Tahun Lalu

📅 Kamis, 04 Apr 2024, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Pada periode 43 ribu hingga 14 ribu tahun yang lalu, ketika permukaan air laut lebih rendah, penghuni Makpan lebih banyak bersandar pada sumber daya pesisir dan darat karena lebih mudah didapat.

Pada masa Plestosen (zaman es), permukaan laut lebih rendah sehingga Pulau Alor masih menyatu dengan Pulau Pantar di barat. Ini menciptakan mega-pulau yang hampir dua kali lipat ukurannya.

Kondisi tersebut meniadakan Selat Pantar di antara Pantar dan Alor. Selat Pantar menjadi tempat berlalunya arus laut kuat yang menghubungkan laut Flores dan Savu. Lokasi Selat Pantar saat itu hanya berupa teluk besar yang terlindungi.

Penurunan muka air laut saat puncak zaman es terakhir juga menciptakan jarak dari situs Makpan ke pantai.

Saat jarak gua lebih dekat dengan pantai, komunitas awal hidup dengan mengkonsumsi kerang, teritip, dan bulu babi. Invertebrata di pesisir ini umumnya hewan yang bergerak lambat atau tidak bergerak. Hewan-hewan tersebut menjadi sumber makanan yang mudah dikumpulkan oleh orang-orang yang belum terbiasa dengan lingkungan baru.

Selain itu, komunitas pesisir awal di sebagian besar wilayah Wallacea dan Asia Tenggara kemungkinan besar memiliki pengalaman dalam mengumpulkan dan mengkonsumsi sumber daya ini.

Sementara, ketika jarak antara gua dan pantai melebar, para penghuni gua terpicu untuk menambah variasi makanan: dari sebelumnya mengandalkan sumber daya laut, menjadi mengonsumsi buah-buahan dan sayuran di daratan. Bahkan, analisis isotop gigi manusia dari Makpan menunjukkan bahwa mereka mungkin lebih banyak mengkonsumsi tikus besar-satu-satunya fauna daratan berukuran besar yang menghuni pulau saat itu.

2. Fase transisi Plestosen hingga awal Holosen

Ketika es mulai mencair sejak 14 ribu tahun lalu (masa transisi dari Plestosen hingga awal masa Holosen), seiring dengan naiknya muka air laut dan kestabilan iklim, eksploitasi sumber daya laut (baik pesisir maupun di bawah laut) meningkat signifikan.

Penduduk Alor pada masa itu mencari makan di wilayah teluk yang terlindung arus laut, garis pantai berbatu, terumbu karang, dan perairan lebih dalam di lepas pantai selatan Alor.

Akses yang meningkat ke berbagai sumber protein laut ditunjukkan oleh berbagai sisa makanan laut yang membentuk situs lapisan tengah yang padat antara 12 ribu-11 ribu tahun yang lalu. Situs ini menunjukkan bukti signifikan aktivitas penangkapan ikan pada periode ini. Sebab, situs ini berisi bukan hanya tulang dari berbagai spesies ikan dan hiu, tetapi juga berbagai bentuk dan ukuran artefak kail berbahan kerang.

Situs ini juga memuat artefak lain seperti pemberat dan alat pengasah dari karang untuk membuat kail. Kail-kail tersebut terbuat dari spesies kerang yang sangat berkilauan-mungkin untuk menarik perhatian ikan. Meskipun tidak ditemukan bahan organik karena usianya terlalu tua, keberagaman jenis kail ikan yang kami temukan menunjukkan kemampuan penghuni gua menangkap ikan di perairan dangkal dan dalam.

3. Fase akhir hunian

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.