Keanekaragaman Pangan Harus Dicapai Beberapa Waktu ke Depan
📅 Selasa, 12 Mar 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/HENRY PURBA
JAKARTA - Upaya pemerintah melalui Kementerian Pertanian memacu produktivitas pangan khususnya beras akan sia-sia jika jajaran emerintah lainnya seperti Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) tetap memprioritaskan produk impor untuk memperkuat stok pangan nasional.
Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi SPI, Muhammad Qomarunnajmi, mengatakan beras memang tetap menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan pangan di wilayah atau daerah. Namun demikian, kebijakan pemerintah belum sepenuhnya mendukung peningkatan produksinya.
Menurut Qomar, kebijakan pemerintah justru membuat petani malas untuk menggenjot produksi. Kondisi tersebut kalau tidak dibenahi maka defisit pangan di banyak wilayah akan terus berlanjut.
"Semestinya, pemerintah memprioritaskan penyerapan hasil panen petani daripada mengimpor beras, namun faktanya impor akhir akhir justru makin meningkat," jelas Qomar.
Padahal, kalau lebih mengutamakan penyerapan gabah petani lokal, tentu akan berdampak luas ke perekonomian nasional. Lebih spesifik lagi akan memotivasi petani untuk memacu produksi gabah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Manfaat lainnya dengan memprioritaskan penyerapan produksi dalam negeri adalah akan mengantisipasi krisis regenerasi petani dan alih fungsi lahan pertanian.
Diminta terpisah, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan keberhasilan panen raya di beberapa wilayah seperti Demak seharusnya menjadi contoh bagi daerah-daerah lain yang selama ini menjadi sentra produksi beras nasional. Apalagi, Demak baru-baru ini dilanda banjir, tetapi mereka tetap bisa menjaga komoditas mereka sampai panen.
"Panen raya di saat harga bagus seperti saat ini akan memotivasi petani semangat menanam. Maka, jangan sampai beras impor merugikan petani. Harga harus dijaga kesetimbangannya," kata Aditya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masyarakat miskin kota sebagai konsumen harus bisa mengakses, sedangkan petani selaku produsen tetap untung. Kuncinya pada koordinasi kementerian terkait, Bapanas, dan pemda.
Kendati demikian, Aditya mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada satu komoditas saja yaitu beras. Keanekaragaman pangan harus menjadi tujuan jangka panjang. "Intinya, jangan sampai didorong homogen. Meski aneka ragam. Kenapa? Agar kita tidak terlalu bergantung pada beras juga. Tiap daerah kan punya potensi pangan lokal itu harus di-support," jelas Aditya.
Menjadikan impor sebagai opsi untuk pemenuhan kebutuhan pangan, katanya, lebih banyak sisi negatifnya. Upaya itu tidak hanya berdampak buruk bagi produsen pangan, namun juga masyarakat umum karena mereka akan kekurangan pasokan beras di pasar, akibat petani enggan menanam. Dampaknya harga beras mahal karena ketersediaannya terbatas.
"Impor hanya akan memperlemah devisa negara dan menjadikan kita sangat bergantung pada negara luar sehingga gampang dikendalikan pihak lain," kata Aditya.
Fokus Utama
Sebelumnya, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi, dalam keterangan di Jakarta mengatakan sektor pertanian beras harus menjadi fokus utama dalam memenuhi kebutuhan pangan di wilayah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!