Sekjen PBB Sesalkan Kebuntuan dalam Perlucutan Senjata Global
📅 Rabu, 28 Feb 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: FABRICE COFFRINI/AFP
JENEWA - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan kepada badan perundingan perlucutan senjata utama dunia bahwa mereka perlu melakukan reformasi segera serta menuduhnya lumpuh dan gagal memaksa negara-negara untuk mengurangi persediaan senjata.
Saat berbicara pada Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, pada Senin (26/2), Guterres mengatakan kegagalan negara tersebut dalam memenuhi mandatnya telah menciptakan suasana sinis terhadap nilai upaya mencapai kesepakatan perlucutan senjata multilateral.
Dikutip dari The Straits Times, belum ada reaksi langsung dari konferensi tersebut, yang menurut situs web-nya, berfokus pada negosiasi kesepakatan untuk mengakhiri perlombaan senjata nuklir dan menghentikan negara-negara membuat senjata di luar angkasa, selain melakukan perlucutan senjata secara umum.
"Sepertinya ada yang salah jika konferensi perlucutan senjata tidak menghasilkan perlucutan senjata yang berarti, dari tahun ke tahun," kata Guterres.
"Kelumpuhan dan kebuntuan yang menjadi penentunya adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Konferensi ini harus segera direformasi," tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia tidak menyebutkan upaya negosiasi spesifik atau memberikan rincian lebih lanjut mengenai reformasi seperti apa yang diperlukan.
Konferensi ini didirikan pada tahun 1979 dan diawasi oleh Kantor Urusan Perlucutan Senjata PBB atau United Nations Office for Disarmament Affairs (UNODA). Badan ini memiliki 65 negara anggota, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan Russia.
Melarang Senjata Kimia
Sebaiknya Anda baca juga:
Negara ini telah merundingkan beberapa perjanjian pengendalian senjata multilateral, termasuk Konvensi Senjata Kimia atau Chemical Weapons Convention (CWC) yang mulai berlaku pada tahun 1997 untuk melarang penggunaan dan penimbunan senjata kimia.
"Sejak awal, konferensi ini dan konferensi-konferensi pendahulunya seharusnya menjadi penangkal racun perpecahan dan kelumpuhan diplomatik yang menghalangi pelucutan senjata yang berarti," kata Guterres.
"Untuk beberapa waktu, konferensi ini belum dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Faktanya, konferensi ini gagal mencapai tujuannya," tegasnya.
Sementara itu, dikutip dari Antara, Indonesia selaku Presiden Konferensi Perlucutan Senjata (Conference on Disarmament), menyerukan perlunya penguatan komitmen perlucutan senjata secara global.
Dalam High-Level Segment Conference on Disarmament yang berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Senin (26/2), Menteri Luar Negeri, RI Retno Marsudi, mendesak negara pemilik senjata nuklir untuk memenuhi kewajibannya, termasuk yang diatur dalam Traktat Non-Proliferasi (NPT).
"Saya sampaikan Indonesia telah meratifikasi Traktat Pelarangan Senjata Nuklir (TPNW) dan siap mendorong universalisasinya," kata Retno dalam keterangan tertulisnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!