Herman Warner Muntinghe, Arsitek Kolonialisme di Indonesia
📅 Selasa, 27 Feb 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoSetelah tahun 1795, di wilayah yang sekarang disebut Belanda, Republik Batavia meraba-raba dan mencari bentuk yang cocok untuk sebuah negara baru. Negara ini baru terbentuk secara pasti beberapa dekade kemudian. Saat itu perusahaan dagang lama VOC dan West indische Compagnie (WIC) telah runtuh.
Bagaimana seharusnya Belanda berhubungan dengan wilayah jajahannya merupakan pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan mudah ketika itu. Tidak ada cetak biru untuk negara kolonial baru. Di Hindia timur, pulau inti Jawa menjadi laboratorium berskala besar di mana pemerintah mencoba berbagai model sosio-ekonomi dan administrasi dengan hasil yang bervariasi.
Terisolasi
Semasa hidup Muntinghe, Hindia sudah lama terisolasi dari negara induk Eropa. Jarak yang sangat jauh sudah menjadi hambatan komunikasi yang besar dalam keadaan normal. Apalagi selama perang Belanda dengan Inggris, negara yang paling berkuasa di lautan saat itu, komunikasi bahkan terhenti. Pada masa ini, koloni harus berjuang sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terputusnya komunikasi telah mengubah hubungan antara Hindia dan Belanda. Hal ini terutama disebabkan oleh pandangan-pandangan baru mengenai hubungan dengan negara jajahan, yang seringkali dinilai berbeda di Nusantara dibandingkan di Eropa.
Selama lama tinggal di Hindia, Muntinghe semakin mengidentifikasikan diri dengan cara pandang negeri jajahan terhadap hubungan kolonial. Meskipun Hindia Belanda bukanlah koloni pemukim Eropa, masyarakat Eropa dan koloni-koloni yang jauh juga beberapa kali bertabrakan secara tajam satu sama lain di Asia.
Di London dan Den Haag, masyarakat terkejut dengan keistimewaan para administrator di koloni tersebut. Di Batavia masyarakat terkadang terkejut dengan kesalahpahaman mendasar mengenai situasi di Hindia Timur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Hindia, Inggris dan Belanda, memiliki ambisi-ambisi baru membawa negara kolonial tersebut ke dalam konflik dengan kerajaan-kerajaan pribumi dalam apa yang disebut sebagai upaya terakhir otonomi Asia. Ketahanan luar biasa dari beberapa negara ini diuji dengan meningkatnya kemampuan finansial dan militer negara-negara Eropa.
Perjuangan antara prinsip-prinsip yang bertentangan inilah yang berjalan seperti benang merah sepanjang karier Muntinghe dan orang-orang sejamannya di Timur, sebuah perjuangan yang untuk sementara baru bisa dilakukan pada 1830 setelah Perang Jawa ketika ia sudah meninggal pada 1827. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!