Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Socrates Mengkritik Demokrasi pada Masyarakat yang Tidak Berpengetahuan

📅 Kamis, 22 Feb 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Socrates Mengkritik Demokrasi pada Masyarakat yang Tidak Berpengetahuan Doc: afp/ LOUISA GOULIAMAKI

Kritik Socrates tentang demokrasi tetap relevan sampai saat ini. Salah satu kritik utamanya adalah demokrasi pada mayoritas masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan atau kebijaksanaan, diperlukan untuk membuat keputusan.

Demokrasi merupakan sistem bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak yang sama untuk pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara ikut serta baik secara langsung atau melalui perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.

Bentuk pemerintahan demokrasi saat ini dianggap menjadi yang terbaik dibandingkan dengan bentuk lain seperti monarki, tirani, aristokrasi, dan oligarki. Namun filsuf Yunani, Socrates, yang lahir di Athena sekitar tahun 469 SM, memiliki pendapat tersendiri yang sehingga kadang pandangannya diplesetkan sebagai menolak demokrasi.

Melalui muridnya Plato dan juga Socrates mendokumentasikan ajaran dan dialog filsafatnya. Gagasan Socrates diabadikan dalam karya Plato sepertiThe RepublicdanThe Symposium, yang terus dipelajari dan dihormati hingga saat ini. Isinya menawarkan wawasan mendalam tentang etika, politik, metafisika, dan hakikat pengetahuan.

Dalam masyarakat yang menjunjung demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang ideal saat ini tentu saja pernyataan Socrates memicu banyak pertanyaan dan kritik. Yang perlu diketahui adalah dalam kondisi seperti apa sehingga ia menyampaikan gagasan tersebut.

Pada sejarawan mengatakan, pandangannya mengenai demokrasi sering disalahtafsirkan atau diambil di luar konteks. Padahal pandangan-pandangan Socrates memberi wawasan berharga mengenai potensi kendala dan kompleksitas sistem demokrasi melalui pemilihan umum. Perspektif Socrates tentang demokrasi dapat ditelusuri kembali ke prinsip-prinsip fundamentalnya dan komitmennya yang mendalam terhadap kebenaran, kebajikan, dan pencarian kebijaksanaan.

Dalam dialogThe Republicyang ditulis Plato, Socrates melakukan pemeriksaan kritis terhadap berbagai bentuk pemerintahan, termasuk demokrasi. Plato menebut Socrates tidak membenci atau mengutuk demokrasi. Ia hanya mengajukan pertanyaan dan kekhawatiran tentang fungsi dan potensi kekurangannya. Salah satu kritik utama Socrates terhadap demokrasi berakar pada keyakinannya bahwa mayoritas tidak selalu memiliki pengetahuan atau kebijaksanaan yang diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat.

Ia menyatakan keprihatinannya bahwa dalam sistem demokrasi, keputusan sering kali dipengaruhi oleh opini dan emosi masyarakat dibandingkan rasionalitas dan keahlian. Yang dikhawatirkan hal itu dapat mengarah pada pilihan-pilihan yang kurang informasi dan peningkatan individu yang terampil dalam manipulasi atau retorika persuasif tetapi tidak memiliki kebijaksanaan sejati atau integritas moral.

Selain itu, Socrates berpendapat bahwa dalam demokrasi, kekuasaan cenderung berada di tangan massa, yang ia sebut sebagai "tirani mayoritas". Kelompok mayoritas mungkin didorong oleh kepentingan dan nafsu mereka sendiri. Mereka berpotensi mengabaikan kesejahteraan kelompok minoritas atau kepentingan jangka panjang masyarakat secara keseluruhan.

Socrates lalu memperingatkan potensi kekuasaan massa, dimana kekuasaan mayoritas yang tidak terkendali dapat menyebabkan penindasan terhadap suara-suara yang berbeda pendapat dan terkikisnya kebebasan individu. Ia juga mengkritik dampak kekayaan dan pengaruh dalam masyarakat demokratis.

Dalam pandangannya, individu dengan sumber daya yang besar dapat memiliki kekuasaan dan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan politik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi korupsi, manipulasi opini publik, dan pengutamaan keuntungan pribadi di atas kepentingan umum.

Memahami Konteks

Untuk memahami sepenuhnya perspektif Socrates tentang demokrasi, penting untuk mempertimbangkan konteks sejarah dan budaya ketika ia hidup. Athena, tempat lahirnya demokrasi, sedang mengalami peningkatan pesat dalam partisipasi politik dan munculnya tantangan-tantangan baru.

Kritik yang dilontarkan Socrates bukanlah penolakan langsung terhadap demokrasi. Ia menyerukan untuk melakukan pemeriksaan secara mendalam, melakukan refleksi diri, dan pemahaman yang lebih dalam mengenai prinsip-prinsip dan cita-cita yang mendasari pemerintahan demokratis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

53 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Nasional
Tanggapan Istana Usai Wamen...
Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.