Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Galakkan Cinta Produk Dalam Negeri untuk Membangun Kemandirian

📅 Selasa, 13 Feb 2024, 00:02 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Galakkan Cinta Produk Dalam Negeri untuk Membangun Kemandirian Doc: ANTARA/KORNELIS KAHA
Ket. Pekerja menurunkan beras impor asal Vietnam. Impor hanya memberatkan keuangan negara. Kebergantungan impor terhadap bahan kebutuhan pokok harus dihentikan.

JAKARTA - Pemerintah hendaknya terus menggalakkan gerakan cinta produk dalam negeri, terutama bahan pokok untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat dan memajukan industri dalam negeri. Seluruh komponen bangsa yang dimotori pemerintah harus begerak membangun kemandirian dan kecintaan produk dalam negeri.

"Impor hanya memberatkan keuangan negara. Pemerintah harus memenuhi apa yang bisa disediakan di dalam negeri, terutama kebergantungan impor terhadap bahan kebutuhan pokok harus dihentikan," kata Wakil Rektor Tiga Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam kepada Koran Jakarta, Senin (12/2).

Surokim mengingatkan derasnya arus impor terutama bahan pokok seperti beras, sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat desa yang mayoritas bermata pencarian sebagai petani. Ini akan mengimbangi gejolak kurs rupiah terhadap dollar AS.

"Inisiasi gerakan cinta produk dalam negeri, ajak dunia pendidikan menghasilkan teknologi pertanian yang lebih maju. Begitu juga untuk industri dasar, banyak kreasi dari SMK dan perguruan tinggi kita," tuturnya.

Kebijakan Nyata

Sementara itu, ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo mengatakan cinta produk dalam negeri harus selalu didorong dan didukung tidak hanya dengan seruan tapi dengan kebijakan nyata.

Kewajiban menggunakan produk dalam negeri sebanyak 95 persen bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menurut Susilo, jadi kebijakan kuat bagi semua stakeholder terkait untuk mendorong daya saing nasional.

Kemenperin harus mensuport tumbuhnya industri dalam negeri yang mampu bersaing dengan industri luar negeri. Kata kunci bagi daya saing produk adalah ketersediaan, kualitas, dan harga.

"Harga kalah sedikit masih ok. Tapi ketersediaan dan kualitas yang setara tidak bisa ditawar. Ya harus disuport oleh politik dan juga langkah nyata memperbaiki industri," tandas Susilo.

Surokim dan Susilo ini merespons apa yang disampaikan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Agus menargetkan 95 persen proyek yang dimiliki BUMN harus menggunakan produk dalam negeri.

Hal itu menurutnya merupakan target yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengoptimalkan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) pada tahun 2024.

Ia menyampaikan target tersebut bertujuan menghidupkan industri dalam negeri dengan menggunakan anggaran yang ada di kementerian dan lembaga (K/L), serta BUMN.

Menperin menilai target yang diberikan Presiden bukan suatu hal yang salah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.