Vihara Tertua di DKI Jakarta Masih Sepi Pengunjung Jelang Imlek 2024
📅 Jumat, 09 Feb 2024, 06:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Risky Syukur
Jakarta - Vihara tertua di Jakarta, yakni Vihara Dharma Bakti di Jalan Kemanggisan III, RT 03/01, Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, masih sepi pengunjung menjelang Tahun Baru Imlek 2575 pada 10 Februari 2024.
Pengurus Vihara, Ayn (45) mengatakan bahwa dibandingkan menjelang Tahun Baru Imlek pada tahun lalu, pengunjung Vihara, baik yang untuk beribadah atau sekadar berkunjung terbilang sepi tahun ini.
"Dibanding tahun lalu, sekarang (jelang Tahun Baru Imlek) sepi orang sembahyang, pengunjung juga," kata Ayn saat ditemui di sela-sela kesibukannya mempersiapkan perayaan Tahun Baru Imlek 2575 pada Jumat.
Ayn mengatakan bahwa menjelang Imlek tahun sebelumnya, umat Buddha yang datang beribadah bisa mencapai 500 orang, sementara pada tahun ini hanya sekitar 100 orang.
"Kalau yang sembahyang jelang Imlek tahun-tahun sebelumnya itu bisa 500an orang, sekarang hanya 100-an orang," ujar Ayn.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, lilin berukuran raksasa yang biasanya disiapkan hingga 50 batang, kini hanya ada sekitar 30 batang. "Biasanya banyak, sampai 50 batang gitu. Sekarang cuma 30-an batang," kata Ayn.
Kondisi di vihara yang dibangun pada 1650 M tersebut, kata Ayn, kemungkinan akan berubah pada Sabtu (9/2) atau Minggu (10/2). "Mungkin besok sama lusa itu ramai. Kan itu perayaannya (Imlek)," kata Ayn.
Di lokasi, beberapa pengunjung melakukan ibadah di salah satu Dhammasala,yakni tempat kebaktian umat yang bisa dimasuki masyarakat umum.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagian membakar garu atau semacam lidi yang digunakan untuk ibadah. Kebanyakan dari mereka adalah kaum lansia.
Di luar Dhammasala,beberapa orang melakukan pemberian persembahan kepada leluhur berupa sejumlah makanan dan melakukan pembakaran kardus-kardus berisi baju, celana, uang dan beberapa barang lainnya.
Salah satunya adalah Meina (59), wanita asal Pluit, Jakarta Utara. Ia mengatakan bahwa tradisi tersebut rutin dilakukannya setiap tahun untuk menghormati leluhur.
"Kita buat ini untuk menghormati leluhur. Sebenarnya bisa di rumah sendiri, tapi bisa juga di vihara," kata Meina.
Ia percaya makanan, pakaian serta uang yang dipersembahkan dalam tradisi tersebut dapat menjadi bekal bagi para leluhur yang telah meninggal.
"Ya ini buat mereka ya, makanan, pakaian, ada uang juga. Jadi doanya kita diberkati kesehatan dan umur panjang," kata Meina.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!