Negara-negara Diminta Tak Cari Celah untuk Hindari Transisi dari Bahan Bakar Fosil
📅 Senin, 05 Feb 2024, 00:21 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SKTT tahun 2024 ini bertujuan fokus pada isu pelik mengenai utang negara-negara kaya di dunia, yang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi yang menyebabkan perubahan iklim, kepada negara-negara miskin, yang menderita dampak perubahan iklim secara tidak proporsional.
Uang telah lama menjadi isu yang paling penting dan paling sulit diselesaikan dalam negosiasi iklim. Banyak negara berkembang melihat kemakmuran yang dicapai negara-negara industri melalui produksi dan pembakaran bahan bakar fosil dan merasa dibenarkan untuk meminta kompensasi jika mereka diharapkan untuk tidak melakukan pembangunan serupa.
Pada KTT perubahan iklim tahun 2022 di Mesir, negara-negara sepakat untuk menciptakan dana yang akan dibayarkan oleh negara-negara kaya dan negara-negara berkembang dapat memanfaatkan dana tersebut untuk melakukan perubahan yang merugikan terhadap lingkungan dan perekonomian mereka agar lebih tangguh dan mudah beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Namun rincian mengenai siapa yang membayar dan berapa banyak telah terperosok dalam perdebatan sengit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seiring dengan semakin murahnya pembangunan energi terbarukan di negara-negara kaya, transisi tersebut terjadi jauh lebih lambat di negara-negara miskin, yang memiliki lebih sedikit akses terhadap jenis kredit dan pinjaman yang diperlukan untuk membiayai peluncurannya.
"Melihat angka-angkanya, jelas bahwa untuk mencapai transisi ini, kita memerlukan dana yang banyak. Sebanyak 2,4 triliun dollar AS jika tidak lebih," kata Stiell.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!