Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Deindustrialisasi Dini, Sinyal RI Terkontaminasi 'Dutch Disease'

📅 Sabtu, 03 Feb 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Deindustrialisasi Dini, Sinyal RI Terkontaminasi 'Dutch Disease' Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES

» Indonesia belum menjadi negara maju, tapi kontribusi sektor industri manufaktur ke PDB sudah turun.

» Fenomena "Dutch Disease" bukan baru kali ini saja dialami Indonesia. Sudah sejak lama, Indonesia menikmati harga komoditas.

JAKARTA - Indonesia dinilai sudah mulai tertular penyakit Belanda atau "Dutch Disease". Hal itu ditandai dengan deindustrialisasi dini sehingga kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun.

Deputi bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, di Jakarta, baru-baru ini mengatakan Indonesia terlena dengan booming harga komoditas atau yang biasa disebut "Dutch Disease".

Saking terlenanya pada harga komoditas, akhirnya industri yang tadinya dibangun di mana-mana untuk menarik investasi dan membuka lapangan kerja sehingga meningkatkan pendapatan penduduk pada akhirnya terbengkalai.

"Kita terlena dengan yang biasa disebut 'Dutch Disease', sehingga kemudian terjadilah deindustrialisasi dini," kata Amalia.

Akibatnya, industri manufaktur tidak berkembang sehingga kontribusinya terhadap PDB turun drastis secara konsisten pada periode 2002 dari saat itu kontribusinya 32 persen menjadi hanya 18,3 persen pada 2022 lalu.

"Artinya, kita belum mencapai negara maju, tapi sektor industri manufaktur kontribusinya ke PDB sudah turun," kata Amalia.

Sebagai informasi, istilah "Dutch Disease" atau penyakit Belanda pertama kali dicetuskan The Economist pada 1977 untuk menggambarkan situasi ekonomi Belanda yang anomali. Anomali itu dapat ditarik mundur ke tahun 1959. Kala itu, Belanda berhasil menemukan cadangan gas terbesar di Eropa yang membuatnya masif melakukan eksplorasi dan ekspor besar-besaran.

Selama proses itu, Belanda mendapat keuntungan luar biasa, terlebih saat dekade 1970-an. Namun di balik itu semua, ada malapetaka yang terjadi. Masifnya ekspor membuat mata uang Belanda, gulden, menguat.

Penguatan itu perlahan membuat sektor manufaktur melemah yang berujung banyaknya industri bangkrut sehingga terjadi deindustrialisasi. The Economist melahirkan istilah "Dutch Disease" yang secara terminologi disebut sebagai pelemahan sektor ekonomi tertentu, salah satunya manufaktur, sebagai imbas booming sektor ekonomi lain yang biasanya berasal dari sumber daya alam atau produksi tanaman komoditas.

Penyakit ini hampir menyerang Indonesia pada dekade 1970-an atau saat terjadi boaoming minyak. Saat itu sudah ada tanda-tanda khas "Dutch Disease", yang menurut Boediono dalam Ekonomi Indonesia dalam Lintasan Sejarah (2016), terlihat jelas dari komposisi PDB dan ekspor.

Beruntung, Menteri Ekonomi, Ali Wardhana, saat itu berhasil membuat Indonesia terhindar dari penyakit tersebut. Anwar Nasution dalam A Tribute to Ali Wardhana (2015) menyebut, caranya dengan mengalihkan keuntungan hasil ekspor minyak untuk membangun sektor pertanian, perbaikan infrastruktur, pembangunan sekolah dan fasilitas kesehatan, serta untuk program kesejahteraan lain.

Sudah Lama

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.