Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Percepat Hilirisasi Gas dan Minerba untuk Tekan Subsidi Energi

📅 Senin, 29 Jan 2024, 00:00 WIB | Oleh:
Percepat Hilirisasi Gas dan Minerba untuk Tekan Subsidi Energi Doc: HANDOUT / CHILDREN’S HOSPITAL OF PHILADELPHIA / AF
Ket. Diskusi dengan tema Optimalisasi Nilai Tambah Industri Berbasis SDA Ekstraktif Berupa Energi, Migas dan Mineral Batu Bara sebagai Lokomotif Ekonomi Bangsa dalam Mencapai Indonesia Emas 2045, di Surabaya, Sabtu (27/1).

SURABAYA - Pemerintah didorong mempercepat hilirisasi gas, mineral, dan batu bara (minerba) dalam negeri karena diyakini menjadi solusi yang tepat untuk menekan subsidi energi. Hal ini perlu dilakukan karena besaran subsidi energi hingga saat ini masih cukup tinggi.

Demikian dikatakan Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana, Hadi Ismoyo, saat menjadi pembicara dalam kegiatan Diskusi Kebangsaan dengan tema Optimalisasi Nilai Tambah Industri Berbasis SDA Ekstraktif Berupa Energi, Migas, dan Mineral Batu Bara sebagai Lokomotif Ekonomi Bangsa dalam Mencapai Indonesia Emas 2045 dan Kongres Daerah VI Ikatan Alumni ITB Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (27/1).

"Salah satu cara untuk menurunkan subsidi adalah mengganti penggunaan liquified petroleum gas (LPG) dengan gas alam sesuai dengan kearifan lokal kita. Kita punya potensi gas yang besar, sedangkan LPG tidak banyak," kata Hadi.

Seperti dikutip dari Antara, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi subsidi energi nasional pada tahun 2023 mencapai 159,6 triliun rupiah atau lebih tinggi dari target yang telah ditetapkan sebesar 145,3 triliun rupiah.

Realisasi subsidi yang terbesar masih pada sektor BBM dan LPG, yang mencapai 95,6 triliun rupiah, diikuti dengan subsidi untuk sektor listrik sebesar 64 triliun rupiah.

Kurangi Subsidi

Hadi mengatakan hilirisasi menjadi sebuah keniscayaan untuk mengurangi besarnya nilai subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Salah satu caranya adalah dengan melakukan percepatan hilirisasi gas alam. Konversi gas LPG ke gas alam harus segera dilakukan.

"Itu harus kita bangun hilirisasi dalam bentuk pembangunan pipa gas yang masif, pembangunan Regas terminal, pipanisasi distribusi, pipanisasi transmisi, hingga pipa rumah tangga yang bisa gantikan LPG sehingga jangka panjang subsidi bisa diturunkan," katanya.

Namun hingga saat ini, pemerintah masih berkonsentrasi menggarap infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan, sementara infrastruktur gas bumi belum maksimal dibangun.

Sementara itu, pakar ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Imron Mawardi, mengatakan, hiliriasi energi bisa menjadi salah satu cara untuk menekan defisit neraca dan subsidi energi mengingat besarnya kebutuhan impor migas sekarang

"Masalah kita selama ini adalah mengekspor sumber daya alam dalam bentuk setengah jadi atau bahkan mentah. Padahal dengan perlambatan ekonomi global, permintaan dari pasar utama yang merupakan negara-negara industri akan turun," kata Imron.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Haree Gini Masih Buang Sampah Sembarangan…Bakal Masuk Bui

16 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Haree Gini Masih Buang Samp...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.