Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bantuan Pangan Belum Mampu Turunkan Harga Beras

📅 Jumat, 12 Jan 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bantuan Pangan Belum Mampu Turunkan Harga Beras Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES

» Tolak impor beras karena pasti akan menekan harga di tingkat petani.

» Masa panen mundur di sekitar April-Mei, sehingga memerlukan stok yang lebih banyak.

JAKARTA - Upaya pemerintah menstabilkan harga pangan dengan menyalurkan beras dalam dua tahap kepada 21,3 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada 2023, ternyata belum mampu menurunkan harga. Penyaluran bantuan tersebut hanya mampu menahan laju kenaikan harga (inflasi) pangan agar tidak naik lebih tinggi.

Hal itu diakui Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, dalam konferensi persnya di Jakarta, Kamis (11/1).

"Harus diakui, bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan Harga Pasar (SPHP) belum berhasil menurunkan harga, tapi berhasil menurunkan inflasi. Harga berasnya masih relatif tinggi. Artinya, harga beras itu stabil, tapi relatif tinggi," kata Bayu.

Menurut Bayu, belum turunnya harga lantaran produksi padi yang memang menurun pada 2023 dibandingkan 2022. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2022 terdapat surplus sekitar satu juta ton beras, sedangkan pada 2023 hanya surplus sekitar 300 ribu ton.

"Mengapa belum berhasil menurunkan harga karena memang kondisi produksi situasinya masih berat, bahkan berlanjut sampai dengan saat ini," katanya.

Bulog, jelasnya, telah menyalurkan beras SPHP sebanyak 1,2 juta ton sepanjang tahun guna menekan harga beras di masyarakat. Beras SPHP dijual di tingkat komersil dengan harga cukup murah dibandingkan beras sejenisnya.

"Kuncinya masih tetap harus diproduksi. Kuncinya itu. Tambahan dari impor yang dua juta ton atau mungkin bisa lebih dari itu, hanya bisa menjaga saja," katanya.

Bayu mengatakan penyaluran bantuan pangan tahap I yang dimulai pada Maret hingga Mei 2023 dan berlanjut pada September hingga Desember 2023, memang bertujuan untuk menjaga inflasi.

"Kita melihat pada bulan Februari ini pada 2023 sebelum bantuan pangan itu inflasi beras 2,63 persen. Setelah bantuan pangan maka inflasi beras turun menjadi 0,7 persen pada Maret 2023, lalu turun lagi menjadi 0,55 persen pada April dan bahkan pada Mei hanya 0,02 persen," katanya.

Sedangkan bantuan pangan beras tahap II yang disalurkan dari September sampai dengan Desember 2023, juga mampu menjaga laju kenaikan harga beras di akhir tahun yang biasanya naik tinggi. Hal itu terlihat dari inflasi beras yang menurun cukup signifikan dari 5,61 persen pada September 2023 menjadi 0,43 persen pada Desember 2023.

"Dengan penambahan jumlah KPM bantuan pangan beras pada 2024 menjadi 22 juta dari sebelumnya 21,3 juta KPM, jika diasumsikan setiap keluarga rata-rata terdiri empat orang maka sudah 88 juta rakyat Indonesia yang merasakan manfaat dari program bantuan pangan ini," tambahnya.

Masa Panen Mundur

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Trump Teken Percepatan Tekn...
Megapolitan
Kebudayaan Harus Menjadi Id...
Megapolitan
Puncak HUT Jakarta Dipusatk...
Nasional
Stimulus Harus Diikuti Refo...

Wabah Ebola Kongo Tembus 1.000 Kasus

53 menit yang lalu | Lukman

Luar Negeri
Wabah Ebola Kongo Tembus 1....
Luar Negeri
Yen Jepang Dekati Titik Ter...

Remake 'The Blair Witch Project' Dijadwalkan Rilis Tahun 2027

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Rona
Remake 'The Blair Witch Pro...

Jepang akan Menaikan Biaya Visa Lima Kali Lipat Mulai 1 Juli

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.