Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Google Stop Pengumpulan Data Lokasi Pengguna Maps, Apa Alasannya?

📅 Sabtu, 16 Des 2023, 09:13 WIB | Oleh: Tim Penulis
Google Stop Pengumpulan Data Lokasi Pengguna Maps, Apa Alasannya? Doc: ANTARA/HO-google.com
Ket. Ilustrasi penggunaan Google Maps.

JAKARTA - Google membuat beberapa perubahan di Google Maps yang akan meningkatkan privasi pengguna, salah satunya dengan menghentikan pengumpulan data lokasi dari fitur lini masa.

Dikutip dari Business Insider, Sabtu (16/12), perusahaan tersebut memutuskan bahwa data lokasi dari lini masa yang dikontrol oleh pengaturan riwayat lokasi dan catatan rute perjalanan pengguna akan disimpan langsung di perangkat pengguna, bukan di Google. Artinya, Google tidak lagi memiliki akses terhadap data riwayat lokasi pengguna.

Selain itu, permintaan data lokasi pengguna dari Google, misalnya melalui perintah "geofence" yang meminta data tentang setiap pengguna yang berada di dekat tempat tertentu pada waktu tertentu, juga tidak lagi diterapkan.

Selama ini, Google mendapat tekanan yang semakin besar untuk menghentikan fitur pengumpulan data lokasi pengguna terutama sejak aturanRoe v. Wadedibatalkan. Berkaca pada sejumlah kasus yang terkait dengan aturan tersebut, data lokasi beserta riwayat pencarian di internet dan bahkan riwayat pengiriman pesan selama ini dapat digunakan sebagai bukti kriminal terhadap individu yang melakukan aborsi di negara-negara yang melarang aborsi.

Pada bulan Mei lalu sebanyak 42 Anggota Partai Demokrat dari DPR dan Senat AS menandatangani surat yang ditujukan kepada CEO Google Sundar Pichai dan mendesak perusahaan untuk berhenti mengumpulkan dan menyimpan informasi lokasi pengguna.

"Praktik Google saat ini dalam mengumpulkan dan menyimpan catatan ekstensif data lokasi ponsel akan memungkinkan menjadikannya alat bagi ekstremis sayap kanan yang ingin menindak orang-orang yang mencari layanan kesehatan reproduksi," tulis surat itu.

Sebelumnya pada Juli, Google mengumumkan akan menghapus data riwayat lokasi pengguna yang mengunjungi klinik aborsi, pusat perawatan narkoba, tempat penampungan kekerasan dalam rumah tangga, klinik penurunan berat badan, dan lokasi sensitif terkait kesehatan lainnya.

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa jika sistem mengidentifikasi bahwa pengguna telah mengunjungi salah satu lokasi sensitif maka sistem tersebut akan menghapus entri tersebut dari riwayat lokasi pengguna tersebut "segera setelah mereka berkunjung". Kini, kendali tersebut kembali berada di tangan masing-masing pengguna.

Google mengatakan kepada Business Insider bahwa pembaruan tersebut adalah bagian dari upaya perusahaan yang lebih besar untuk meningkatkan privasi pengguna dan memberi individu kontrol lebih besar atas data mereka, merujuk pada fitur lain seperti penghapusan otomatis dan Mode Incognto.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

56 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.