Roket Telah Digunakan Secara Luas di Era Tiongkok Kuno
📅 Rabu, 06 Des 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Sebelum sedemikian maju seperti sekarang, roket pertama digunakan sebagai sistem penggerak panah di Tiongkok. Di era kuno di negeri itu, roket-roket digunakan sebagai senjata untuk mengalahkan musuh dalam perang antar wilayah negara.
Hingga saat ini Tiongkok selalu dipuji karena melahirkan banyak penemuan termasuk salah satunya roket. Roket-roket kala itu dibuat oleh para ilmuwan kuno. Mereka menciptakan roket dari bubuk mesiu yang dinyalakan.
Melalui evolusi jangka panjang yang dipadukan dengan teori dan penelitian ilmu pengetahuan alam, roket kuno akhirnya berubah menjadi wahana peluncur modern. Dari evolusi teknologi ini, roket telah kini menjadi andalan dalam eksplorasi luar angkasa.
Kata "roket" muncul pada awal abad ketiga selama periode Tiga Kerajaan (220-280) di Tiongkok. Pada 228, negara Wei memimpin dengan menyalakan obor pada setiap anak panah dalam upaya untuk menjaga Kota Chencang (sekarang Kota Baoji di Provinsi Shaanxi, Tiongkok utara) dari pasukan penyerang yang dipimpin oleh Zhuge Liang, perdana menteri negara Shu.
Hao Zhao, jenderal dari negara Wei menggunakan panah api untuk membakar "tangga awan" (tangga pengepungan bergerak) pasukan Shu. Itulah mengapa ia mampu mempertahankan Chencang dari serangan negara Shu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lalu muncullah istilah roket yang berarti panah api. Kedua kata ini mengacu pada bahan mudah terbakar yang ditempelkan pada ujung bawah anak panah, yang terutama digunakan sebagai senjata untuk menyalakan api.
Pada akhir abad ke-10 pada masa Dinasti Song yang berkuasa antara 960 hingga 1279, bangsa Tiongkok telah mengadaptasi bubuk mesiu menjadi roket. Untuk membuat panah seperti itu, pertama-tama dibuat tabung, kemudian bubuk mesiu dimasukkan ke dalamnya. Lalu ditempelkan pada anak panah untuk diluncurkan dengan busur.
LamanChina Culturemenyebut, roket pertama dan paling primitif dalam sejarah umat manusia tersebut kemudian mengalami perbaikan, dan perbaikan pertama dilakukan pada panah. Misalnya bubuk mesiu langsung terbawa ke dalam anak panah dan suara gemuruh ledakan mesiu dapat membuat musuh ketakutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Roket kuno selanjutnya terdiri dari empat bagian, mata panah, laras panah, bulu panah, dan tabung mesiu. Tabung mesiu yang sebagian besar terbuat dari tabung bambu atau kertas karton ini diisi dengan bubuk mesiu, salah satu ujungnya tertutup dan ujung lainnya terbuka. Sebuah lubang kecil tersisa untuk sumbu peledakan. Saat dinyalakan, bubuk mesiu akan terbakar di dalam tabung, menghasilkan sejumlah besar gas, yang jika ditembakkan ke belakang dengan kecepatan tinggi, akan menghasilkan gaya dorong ke depan yang sangat besar. Roket ini diyakini sebagai bentuk embrio roket modern.
Tabung mesiu sebanding dengan sistem penggerak modern, dan mata panah yang tajam, dengan kekuatan penghancurnya yang menusuk lebih baik dibandingkan dengan hulu ledak roket modern. Meskipun bulu membantu menstabilkan anak panah, sama seperti sistem penstabil modern dengan larasnya mirip dengan bagian badan roket modern.
Setelah kemunculannya, roket kuno diadaptasi secara luas dalam kegiatan militer dan hiburan rakyat. Dalam perang antara negara Song, Jin, dan Yuan antara abad ke-10 dan ke-13, senjata mesiu, seperti senjata api, dan meriam api terbang, banyak digunakan. Meriam api yang terbang pada saat itu, senjata roket primitif, sangat mirip dengan penyembur api masa kini.
Pengembangan
Pada akhir abad ke-12, roket primitif mengalami kemajuan pesat dan digunakan secara luas dalam persenjataan. Selama Dinasti Yuan (yang berkuasa antara 1271 hingga 1368) dan Qing (yang berkuasa antara 1644 hingga 1911), senjata roket dikembangkan lebih lanjut.
Pada kedua periode banyak jenis roket baru ditemukan, termasuk panah Sembilan Naga dan panah Kawanan Lebah, yang sangat mirip dengan roket modern. Berikutnya pada masa Dinasti Ming (yang berkuasa antara 1368 hingga 1644), perkembangan roket di Tiongkok mengalami kemajuan yang signifikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!