Memerdekakan Kreativitas Guru hingga Pelosok Negeri
📅 Senin, 27 Nov 2023, 20:44 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/INOVASI
JAKARTA - Sosok guru sudah sepatutnya mendapat apresiasi tak terbatas dari siapa pun. Perhargaan itu sangat pantas, mengingat orang-orang hebat mampu meraih dunianya berkat mereka yang disebut pahlawan tanpa tanda jasa.
Para guru menempuh perjalanan panjang dan berliku agar mampu membentuk generasi yang berilmu, beradab, dan memiliki rasa tanggung jawab tinggi terhadap lingkungan sekitar.
Bahkan, terkadang seorang guru harus mengorbankan mimpi lainnya hingga meninggalkan setumpuk kenyamanan untuk keluar dari zona yang biasa mereka lalui, demi menyemai calon penerus bangsa yang berkualitas.
Salah satu guru itu adalah Siti Saudah. Selepas lulus dari jurusan Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 2011, Siti justru ingin mengabdikan dirinya di daerah terpencil.
Berbeda dengan banyak guru lainnya yang memilih mengajar di kota, Siti ingin ilmunya bisa menyentuh anak-anak di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) di Indonesia agar mereka memiliki kesempatan yang sama dalam meraih cita-cita.
Sebaiknya Anda baca juga:
Harapan mulia Siti untuk mengajar sampai pelosok negeri tercapai setelah ia mengikuti Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal hingga akhirnya ditugaskan di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Aceh.
Ada cerita menarik ketika Siti pertama kali menjadi pendatang di daerah tersebut. Wanita berjilbab ini awalnya dicurigai sebagai mata-mata pemerintah, namun setelah berjalannya waktu, warga mengerti tujuan Siti datang ke Aceh betul-betul untuk mengajar.
Setelah menyelesaikan satu tahun pengabdian di Aceh Besar, Siti mendapatkan bonus beasiswa kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan memiliki kesempatan pulang kampung sambil mengajar di Pati, Jawa Tengah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Putar Balik Arah
Keputusan Siti kembali ke Jawa Tengah dan mengajar di SMA 3 Pati selama 2014 sampai 2017 ternyata memberinya banyak kesempatan untuk menggali potensi, bahkan kariernya sebagai guru mendapat jalan yang mudah.
Meski demikian, di tengah segala kenyamanan yang dirasakan tak lantas membuat Siti terbuai. Hati kecil Siti terusik akan ingatannya ketika mengajar di Aceh. Ia seketika teringat bahwa masih banyak tempat terpencil di Indonesia yang membutuhkan guru seperti dirinya.
Gayung bersambut, rasa risau di hati Siti terjawab, seiring Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2017 membuka kesempatan untuk mengabdi sebagai guru di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Siti tak bisa mengelak karena panggilan jiwanya untuk kembali mengabdi ke daerah tertinggal tak terbendung lagi. Tak disangka mimpi itu kembali ia genggam, Siti mendapat penempatan di SD Negeri Lawinu di Tanarara, Desa Katikutana, Kecamatan Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sekolah yang berada di kawasan pinggir Taman Nasional Laiwangi Wanggameti ini memiliki kondisi yang jauh dari ideal. Hanya terdiri dari dua unit bangunan yang mulai dimakan usia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!