Memerdekakan Kreativitas Guru hingga Pelosok Negeri
📅 Senin, 27 Nov 2023, 20:44 WIB | Oleh: Tim PenulisBangunan itu berada di atas bukit, sementara sebagian besar murid adalah anak-anak petani yang datang ke sekolah bertelanjang kaki. Mereka harus berjalan satu jam atau lebih, mendaki bukit-bukit tandus dari kampung.
"Di balik bukit tinggi ada berlian," begitu lah kepercayaan Siti. Segala keterbatasan sekolah itu justru membuatnya langsung jatuh hati. Ia ingin mengabdi karena meyakini para murid memiliki potensi besar yang tak terhingga untuk bangsa dan negara.
Sembari beradaptasi dengan lingkungan, Siti mulai menata laporan keuangan sekolah yang belum terkelola dengan baik. Ia membuat sistem pelaporan agar mudah dipahami, sehingga guru-guru lain bisa mengikuti. Menurut dia, langkah ini akan membuat operasional sekolah berjalan lancar.
Siti juga melatih para guru mengoperasikan laptop yang selama ini hanya menjadi onggokan suvenir di meja karena tidak ada yang berani menyentuh, kecuali kepala sekolah. Perlu waktu setahun menumbuhkan keberanian para guru untuk berlatih mengoperasikan laptop.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kini sudah ada sembilan laptop di sekolah itu dan satu personal computer (PC), sehingga setiap orang bisa menggunakan satu laptop. Kini, guru-guru sudah bisa menjelajah dan mencari bahan pembelajaran dari internet, membuka e-mail, dan melakukan rapat melalui aplikasi Zoom.
Pada tahun 2021 ketika ada Asesmen Nasional Berbasis Komputer, beberapa sekolah sekitar berkumpul di SD Negeri Lawinu untuk memakai fasilitas dan belajar cara memakai laptop dari guru-guru di sekolah itu.
Kreativitas Guru
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemampuan para guru yang semakin memadai terhadap teknologi membuat mereka sadar bahwa perkembangan para murid masih rendah, terutama terhadap kemampuan membaca dan menghitung.
Di kelas IV SD Negeri Lawinu, tempat Siti mengajar, hanya ada lima siswa yang bisa membaca agak lancar, enam siswa bisa mengeja kata, dan enam lainnya sama sekali belum mengenal huruf.
Kondisi tersebut, bahkan lebih parah di kelas bawah karena hampir semua siswa belum bisa mengeja dan menuliskan huruf.
Menurut hasil penelitian Program Kemitraan untuk Pengembangan Kapasitas dan Analisis Pendidikan, Sumba Timur memang merupakan salah satu kabupaten yang tingkat literasi dan numerasi dasarnya rendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur berkolaborasi dengan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) menyelenggarakan program Literasi Dasar awal tahun 2018 dengan Siti terpilih menjadi salah satu fasilitator daerah beserta 62 guru lain.
Tugas mereka adalah mengajarkan modul-modul pelatihan kepada pendidik kelas awal, yaitu kelas satu, dua, dan tiga, di 13 kecamatan yang menjadi penerima program daerah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!