Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dialog Solusi Atasi Benturan Antargenerasi

📅 Rabu, 15 Nov 2023, 20:38 WIB | Oleh:
Dialog Solusi Atasi Benturan Antargenerasi Doc: istimewa
Ket. dialog

JAKARTA - Niat bunuh diri di kalangan anak muda sudah masuk ke kategoriclinically important. Kategori itu mengarah pada angka toleransi serius mempertimbangkan untuk bunuh diri (seriously considered suicide). Indikasi ini diinterpretasikan perlunya intervensi penanganan masalah kesehatan jiwa lebih daribusiness as usual.

Hal tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Indonesia (UI), Semiarto Aji Purwanto dalam penyampaian materi diskusi bertema 'Saatnya Bicara Kesehatan Jiwa' dalam rangka deklarasi Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa. Diskusi dan deklarasi itu dilakukan di Jakarta, Selasa (14/11) di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan 11, Jakarta Pusat.

Dijelaskan Aji, hasil skrining kesehatan jiwa pada mahasiswa baru Fisip UI menunjukkan niat bunuh diri tidak mengalami peningkatan polinomial. Itu artinya tidak terjadi situasi luar biasa yang mengarah ke niatan ingin bunuh diri secara masif, katanya.

"Namun hal itu tidak mengurangi peringatan untuk memperhatikan isu kesehatan jiwa pada generasi muda," ungkapnya pada kesempatan tersebut.

Interpretasi hasil skrining kesehatan jiwa mahasiswa baru menunjukkan keinginan bunuh diri berada di angka 10,8 persen, di bawah kategoriseriously considered suicideyang dipatok pada angka 18,8 persen hingga 25,5 persen. Sejak 2019, UI melakukan skrining untuk mahasiswa baru menggunakan metodeself reporting questionnaire(SRQ).

Benturan nilai antargenerasi ditambah dampak ikutan dari revolusi teknologi digital dan sosial media menjadi pemicu tingginya kasus kesehatan jiwa. Permasalahan kesehatan jiwa tidak hanya melanda Indonesia tetapi seluruh dunia. Sayangnya, isu yang sudah menjadi perhatian global itu belum terlalu menjadi fokus di Indonesia.

"Solusi atas benturan nilai antargenerasi itu dapat dijembatani dengan sesering mungkin dilakukan dialog antargenerasi. Perubahan sikap, perilaku, dan cara pikir generasi muda saat ini sangat dipengaruhi revolusi teknologi dan informasi, termasuk di dalamnya sosial media," katanya.

Perubahan pengaruh inilah yang sering kali tidak dipahami generasi yang lahir sebelumnya. Persoalan itu mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, Selasa (14/11) di Auditorium Perpustakaan Nasional. Diskusi yang mengambil tema 'Saatnya Bicara Kesehatan Jiwa' itu digagas dalam rangka Deklarasi Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa.

Diskusi menghadirkan Semiarto Aji Purwanto, juga dokter spesialis penyakit jiwa Tjhin Wiguna, jurnalis Kompas Elvy Rachmawati, dan presenter Metro TV Marvin Sulistio. Diskusi berpijak pada hasil studi yang dilakukan Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa pada Oktober 2023.

Deklarasi Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa dihadiri Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy. Pendirian Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa didasari urgensi masalah kesehatan jiwa yang semakin hari semakin memprihatinkan. Dalam deklarasinya disebutkan, Kaukus ini merupakan gerakan bersama berbasis komunitas yang akan melakukan kegiatan riset, edukasi, advokasi, aksi pencegahan dan mitigasi karena tidak ada kesehatan fisik tanpa kesehatan jiwa.

Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa diinisiasi Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Prof. Dr. FX Mudji Sutrisno, SJ., Prof. Dr. Drs. Semiarto Aji Purwanto, M.Si., Dr. Adriana Elisabeth, Dr. Ray W. Basrowi, Maria Ekowati, dan Kristin Samah. Ditegaskan dalam deklarasi, Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa diinisiasi secara mandiri, semata-mata untuk kepentingan kemanusiaan.

"Salah satu inisiator yang baru saja meluncurkan buku Menulis Membaca Kehidupan, kelompok umur anak sekolah, remaja, dan usia produktif merasakan dampak paling berat dari perubahan cara hidup saat ini sehingga seringkali mengalami benturan dengan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Hal ini juga bisa dirasakan di tempat kerja," ujar Kristin.

Mudahnya mengakses informasi melalui internet membuat generasi muda memiliki pengetahuan sangat luas, ujar Kristin. Namun di sisi lain, informasi yang diperoleh di internet bila tidak diimbangi dengan eksplorasi pada sumber yang memiliki kredibilitas tidak akan memiliki kedalaman sehingga proses internalisasi informasi akan menimbulkan guncangan.

Inilah yang berpotensi mengganggu kesehatan jiwa. Terkait dengan kemudahan memperoleh informasi itu juga bisa dilihat dari maraknya anak-anak muda melakukan self diagnostik untuk mengukur tingkat kesehatan jiwanya. Sudah banyak kasus yang membuktikan kesalahan diagnostik akan berakibat fatal karena tidak mendapat penanganan dengan baik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

37 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.