Daur Ulang Sampah Kantong Plastik, Berdayakan Keluarga Prasejahtera di Pesisir Makassar
📅 Minggu, 12 Nov 2023, 14:22 WIB | Oleh: Vitto Budi
Doc: Istimewa
BERAWAL dari keresahan akan pengelolaan sampah kantong plastik, Akmal Idrus, Founder & CEO Rappo Indonesia makin tertarik untuk melakukan riset bagaimana mendaur ulang agar bisa menjadi produk yang bermanfaat dan memberi nilai tambah, baik bagi lingkungan, maupun masyarakat khususnya kaum perempuan.
Hal itu dipadukan oleh lajang berusia 30 tahun asal Makassar itu dengan bekalnya yang senang terlibat dalam komunitas sosial. Ide untuk mengubah keresahannya pun datang bersamaan dengan masa pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Dari situlah lahir "Rappo" yang secara filosofi dalam bahasa Bugis-Makassar artinya buah.
"Jadi apa yang kita lakukan dengan sampah kantong plastik melalui kolaborasi dengan kaum perempuan akan membuahkan hasil," kata Akmal kepada Koran Jakarta, disela-sela Festival Kejar Mimpi Actionation 2023 yang diselenggarakan CIMB Niaga di Pos Bloc, Jakarta, Sabtu (11/11).
Kebetulan, filosofi itu cocok dengan kerajinan tas produksi Rappo yang full colour seperti buah yang memiliki keanekaragaman warna, segar dan sesuai selera anak muda.
Alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin yang pernah jadi jurnalis itu menceritakan awal keresahannya yang dia temukan di lapangan. Terutama, sampah kantong plastik yang paling banyak berserakan dan dominan mencemari lingkungan. Sampah dari kantong plastik terang Akmal sangat tidak memiliki nilai ekonomis, hanya dihargai 250 rupiah per lembar setelah dipress. Berbeda dengan sampah lain seperti botol plastik, kertas dan kardus yang sudah banyak ditampung oleh pengepul.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dari situlah niatnya, sehingga Rappo itu produk bahan dasarnya dari hasil daur ulang sampah kantong plastik. Kenapa terinspirasi membuat tas dan menyasar kaum Kartini, karena di Makassar itu, di lorong-lorong (gang kecil-red), ibu-ibu memiliki kebiasaan membuat tas dari sampah plastik," kenang Akmal.
Sayangnya, produk yang mereka buat itu hanya digunakan sesaat, karena desainnya tidak menarik, dan pada akhirnya pasti akan jadi sampah juga.
"Saya dari awal berharap bagaimana sampah kantong plastik jadi produk recycle tapi bermanfaat dan dipakai, bukan hanya sekedar produk kerajinan yang orang beli karena kasihan, tapi memang karena bermanfaat dan punya nilai (value) yang tinggi," jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai leader Komunitas Kejar Mimpi di Makassar, Akmal yang dua kali menjadi juara Community Link CIMB Niaga makin termotivasi melakukan riset melalui Google, mencari berbagai referensi dan literatur, hingga turun langsung ke mal-mal. Bukan untuk belanja, tetapi mengamati secara detail, model, bahan dasar tas, cara menjahit dan kerapiannya.
Setelah riset, lalu trial and error bermodal tabungan sendiri selama setahun, akhirnya membuahkan hasil. Sampah kantong plastik, ketika dipress dengan tekanan tertentu ternyata bisa menghasilkan lembaran yang mirip dengan kulit.
"Dari situ muncul ide ternyata bisa dibuat tas. Kita coba-coba waktu itu ternyata jadi," kisah Akmal.
Dia pun berani merealisasikan keresahannya, dan mulai membuat tas tepatnya pada 20 Juni 2020. Untuk memulai jelasnya bukan perkara mudah. Setelah ketemu bahan dasarnya, alat yang digunakan masih seadanya. Kalau sekarang dalam berproduksi sudah didukung mesin, dulu masih memakai setrika.
Apalagi, dia juga belum punya penjahit, jadi harus keliling di Makassar mencari penjahit yang mau menjahit lembaran limbah plastik yang sudah dipress.
Dengan proses yang lama dan hasilnya tidak instant, dalam perjalanannya sempat terbersit keraguan dengan investasi waktu yang dia berikan itu. Apakah, bisa berdampak positif bagi kehidupannya, komunitas dan masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!