Pagoda Sembilan Lantai di Pulau Kemaro
📅 Sabtu, 11 Nov 2023, 06:25 WIB | Oleh: Haryo BronoSaksi Pertempuran
Pulau Kemaro juga menjadi saksi aktivitas perdagangan dan pertempuran dengan Belanda. Pada Perang Palembang I dan Perang Palembang II sepanjang awal abad ke-19, Kesultanan Palembang Darussalam mendirikan salah satu benteng maritim terkuat di atas tanah Pulau Kemaro bernama Benteng Tambak Bayo.
Alasannya dipilihnya pulau itu sebagai lokasi pertahanan lapis pertama karena kawasannya tidak pernah terendam air meski permukaan Sungai Musi sedang tinggi. Ini berbeda dari tempat lain yang sebagian besar merupakan rawa.
Benteng pertahanan di Pulau Kemaro menjadi kunci penting dalam mengontrol masuknya kolonial Belanda ke Palembang. Dalam berbagai invasinya, Belanda kehilangan banyak kapal dan anak buah karena pertahanan Benteng Tambak Bayo yang solid.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun Belanda akhirnya berhasil menduduki Palembang pada tahun 1821 dan semua benteng yang ada di sekitar Keraton Kuto Gawang sekarang wilayah Pusri diluluh-lantakkan oleh Belanda, termasuk Benteng Tambak Bayo. Bahkan tidak ada sedikitpun sisa-sisa bangunan benteng yang masih berdiri hingga saat ini.
Pulau ini pun pernah mengalami transformasi fungsi dari sejak tahun 1965 hingga sekarang. Antara 1965-1967 pulau ini menjadi kamp tahanan politik. Antara 1968-1997, pulau ini pernah menjadi pemukiman dan tempat ibadah. Sejak tahun 1968, pulau ini mulai dihuni oleh penduduk yang jumlahnya semakin meningkat.
Pada periode tersebut Pulau Kemaro mulai dijadikan sebagai tempat wisata religi. Banyak masyarakat yang telah mengunjungi Pulau Kemaro untuk berdoa, berziarah dan meminta peruntungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lalu fungsi Pulau Kemaro tahun 1998-2007 adalah sebagai lahan pertanian. Ini terjadi seiring dengan pola pikir warganya yang semakin maju, didukung dengan lokasi yang berada di tengah-tengah sungai sangat mendukung untuk dibukanya lahan pertanian guna meningkatkan taraf hidup penduduk.
Selain itu sejak 2008 hingga sekarang Pulau Kemaro menjadi objek wisata religi.
Pagoda Sembilan memiliki delapan sudut seperti simbol Pat Kwa atau delapan trigram. Warna cerah pagoda tersebut seperti merah, merah muda, kuning, dan biru sesuai dengan makna simbol warna yang terdapat pada kepercayaan Tiongkok.
Selain pagoda ada klenteng yang telah ada sejak dulu. Klenteng Hok Tjing Bio atau lebih dikenal Klenteng Kwan Im dibangun sejak tahun 1962. Di depan klenteng terdapat makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang menjadi legenda bagi pulau ini.
Selain itu di tempat ini juga terdapat sebuah pohon yang disebut sebagai "Pohon Cinta" yang melambangkan cinta sejati antara dua bangsa dan dua budaya yaitu antara Putri Siti Fatimah dan Tan Bun An. Konon jika ada pasangan yang mengukir nama mereka di pohon tersebut maka hubungan mereka akan berlanjut sampai jenjang pernikahan. Itulah mengapa pulau ini disebut juga dengan Pulau Jodoh. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!