Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemerintah Abai Membangun Infrastruktur Sektor Pertanian

📅 Kamis, 02 Nov 2023, 00:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Abai Membangun Infrastruktur Sektor Pertanian Doc: ISTIMEWA
Ket. SIGIT SUPADMO ARIF Guru Besar Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta - Peringatan mengenai pentingnya membangun pertanian secara holistik sudah bertahun-tahun, tapi terus saja impor yang jadi kebijakan utama pemenuhan pangan kita.

» Pemerintah harus membunyikan alarm karena kebergantungan pada impor pangan akan terganggu dengan kebijakan negara eksportir yang sudah mulai membatasi ekspor.

» Dibutuhkan pemimpin yang visioner dan mampu mengedepankan kepentingan publik daripada kepentingan sekelompok orang.

JAKARTA - Pemerintah diminta mewaspadai krisis pangan global karena dampaknya sudah menyebar ke Indonesia seperti kenaikan harga beberapa komoditas pangan. Merembetnya dampak krisis pangan itu tidak lepas dari sikap abai pemerintah pada peringatan agar segera membenahi sektor pertanian dalam negeri dalam rangka substitusi impor.

Guru Besar Teknologi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sigit Supadmo Arif, mengatakan pemerintah harus membunyikan alarm karena kebergantungan pada impor pangan akan terganggu dengan kebijakan negara eksportir yang sudah mulai membatasi ekspor pangan mereka guna memenuhi kebutuhan dalam negerinya.

Saat ini, kata Sigit, sudah 23 negara yang membatasi ekspor pangan. Indonesia sebenarnya bukan tidak siap mengantisipasi kondisi tersebut, tetapi selama ini Indonesia memang tidak mau siap dan malah mengabaikan semua peringatan.

"Perlu diingat, membangun infrastruktur itu penting, tapi harus memprioritaskan infrastruktur utama seperti pertanian. Jaringan irigasi sekunder dan tersier pun tidak dibangun. Pemerintah hanya membangun irigrasi primer, tapi lupa membangun sarana irigasi sekunder dan tersier, akibatnya air tidak sampai ke desa-desa," katanya.

Kalaupun toh dibangun, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Dwijono Hadi Darwanto mensinyalir sebagian besar irigasi sekunder dan tersier tersebut sudah rusak. "Hampir 60 persen lebih itu sudah rusak. Otomatis pasokan air jadi terganggu. Pasokan air yang terganggu itu, selama ini tidak pernah dibetulkan. Itu yang sebenarnya sebagai ancaman dan sudah ada sejak lama, tapi tidak pernah diperbaiki," kata Dwijono.

Dia pun membandingkan dengan Vietnam, dimana irigasi dari Sungai Mekong yang tadinya hancur karena perang, begitu selesai perang diperbaiki. Sekarang, produksi beras di Vietnam sudah lebih tinggi dari Indonesia.

Menurut Sigit, Man power untuk menjaga irigasi pun tidak disiagakan, sehingga tidak ada yang menjaga pintu-pintu. Dia juga membenarkan kalau saat ini sumber air irigasi 70 persen adalah bendungan. Namun, apabila daerah aliran sungai jelek maka sawah pada musim kering tidak akan ada air.

"Peringatan mengenai pentingnya membangun pertanian secara holistik sudah bertahun-tahun, tapi terus saja impor yang jadi kebijakan utama pemenuhan pangan kita," papar Sigit.

Oleh karena itu, dia mengatakan kalau menteri-menteri yang ada hanya berpikir impor saja maka sebenarnya untuk apa ada menteri. Sebab, levelnya hanya pedagang, bukan merumuskan dan melaksanakan kebijakan.

"Kalau menteri hanya berpikir impor aja, ya nggak perlu menteri, tapi levelnya hanya sebatas pedagang. Kalau sudah 23 negara tidak ekspor bagaimana? Masa kita mengemis untuk beli pangan. Inilah tragedi kegagalan kepemimpinan nasional. Apa yang dicita-citakan Bung Karno pada Marhaen ya akhirnya kita tidak punya pangan lagi. Lahan subur terbatas. Pulau Jawa itu kualitas satu tanah tapi dibeton," katanya.

Hal itu karena selama bertahun-tahun diizinkan berjalan. Dengan fulus, semua bisa dibeli. Maka dari itu, pemimpin baru kelak kalau tidak berjuang untuk pangan, energi, dan teknologi maka Indonesia akan mengalami masalah besar masuk dalam status bahaya.

Kepentingan Publik

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
Daerah
Polres Kerinci Bahas Distri...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.