Harga Gas Perburuk Kinerja Industri
📅 Kamis, 02 Nov 2023, 08:23 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Industri manufaktur di Tanah Air sedang mengalami tekanan cukup berat dari kondisi di global maupun domestik. Selain imbas tekanan geopolitik dan ekonomi global, masalah lain datang dari kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang tidak berjalan baik.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menurutkan beberapa industri justru membeli harga di atas enam dollar AS per million british thermal unit (MMBTU), sehingga menurunkan daya saing produk mereka.
Menurutnya, HGBT untuk sektor industri harus terlaksana dengan tepat sesuai peraturan berlaku. Sebab, adanya isu kenaikan HGBT akan berpengaruh terhadap daya saing industri.
"Perluasan program HGBT itu juga akan berdampak terhadap peningkatan investasi sektor industri di Indonesia karena adanya ketersediaan energi yang kompetitif," jelas Febri di Jakarta, Rabu (1/11).
Apalagi, pemerintah fokus untuk terus meningkatkan investasi dan kinerja sektor industri manufaktur. Pasalnya, hal itu menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Febri mencatat beberapa kendala terhadap penerapan HGBT, antara lain sektor industri mengalami pembatasan pasokan gas bumi di bawah volume kontrak. Dia mencontohkan, di Jawa Timur terjadi pembatasan kuota antara 27-80 persen kontrak dan pengenaan surcharge harian untuk kelebihan pemakaian dari kuota yang ditetapkan di hampir seluruh perusahaan.
Selanjutnya, masih ada industri penerima HGBT yang mendapatkan harga di atas enam dollar AS per MMBTU, dan bahkan ada sektor industri pengguna yang belum menerima HGBT. Sektor industri tersebut sudah direkomendasikan oleh Menperin mulai periode April 2021 Agustus 2022.
Masalah kompleks ini, papar Febri, berpengaruh besar terhadap permintaan bagi sektor industri manufaktur di Tanah Air.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2023 menunjukkan ekspansi dengan capaian 50,70 atau melambat dari September lalu sebesar 52,51. Hal ini sejalan dengan hasil Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan sama, dengan posisi 51,5, turun dari September di posisi 52,3, sesuai data S&P Global.
"Untuk PMI manufaktur Indonesia, kita telah berada di posisi ekspansi selama 26 bulan berturut-turut," kata Febri.
Namun, Febri menyebutkan sektor industri saat ini masih terus menghadapi hantaman bertubi-tubi yang mempengaruhi produktivitas dan daya saingnya, terutama ketidakpastian global dan depresiasi rupiah.
Gejala Melambat
Terkait capaian PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2023, Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan, menyampaikan sektor industri manufaktur di Indonesia terus berekspansi pada awal triwulan IV-2023.
"Namun demikian, tanda-tanda perlambatan lebih lanjut pada momen pertumbuhan telah terlihat, termasuk perlambatan kedua secara berturut-turut pada pertumbuhan permintaan baru dan kontraksi baru pada permintaan ekspor baru," ungkap Jingyi Pan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!