Intelijen Belanda Lakukan Penyiksaan Ekstrem Selama Perang Kemerdekaan
📅 Rabu, 25 Okt 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoMenurut Frisart bagian buku ini hampir seperti panduan singkat tentang penyiksaan. Kekerasan yang dilakukan badan intelijen Belanda mempunyai cap KNIL yang tegas dan itu bukan suatu kebetulan. Pasalnya tentara kolonial telah menggunakan kekerasan ekstrem sebelum terjadi Perang Dunia Kedua.
Sebagian besar pekerjaan kotor dalam penyiksaan dilakukan oleh tentara KNIL "pribumi" karena mereka mengetahui bahasa, budaya, dan adat istiadat setempat jauh lebih baik dibandingkan orang Belanda. Penulis menyatakan bahwa tentara Indonesia ini bekerja di bawah tanggung jawab atasan Belanda, sementara perwira dan bintara Belanda hadir dan ikut serta dalam sesi penyiksaan.
Secara keseluruhan, badan intelijen yang relatif kecil (sekitar 5.000 orang dari 220.000 tentara yang aktif di pihak Belanda) bertanggung jawab atas sebagian besar kekerasan ekstrem yang dilakukan oleh tentara Belanda di Indonesia.
Kontraproduktif
Sebaiknya Anda baca juga:
Masih harus dilihat seberapa efektif kekerasan yang dilakukan oleh badan intelijen tersebut. Misalnya, Limpach menyebutkan bahwa beberapa tentara intelijen sendiri menganggap penyiksaan sebagai hal yang kontraproduktif. Karena bisa menyebabkan korban pingsan total.
Sering juga terjadi bahwa korban mengatakan sesuatu, namun memberikan informasi yang terlalu kabur, salah, atau ketinggalan zaman. Hal membawa pada pertanyaan yang lebih umum mengenai seberapa efektif kerja badan intelijen militer Belanda di Indonesia.
Limpach membahas hal ini secara rinci. Kesimpulannya adalah bahwa badan intelijen Belanda biasanya mengikuti fakta dan oleh karena itu tentara Belanda berperilaku seperti petinju yang matanya ditutup, lalu memukul-mukul tanpa mengenai sasaran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Limpach banyak operasi militer Belanda yang gagal karena lawan Indonesia sudah mengetahuinya sejak awal. Dalam pertarungan intelijen pemenangnya dari pihak Indonesia karena berhasil menguasai medan.
Dalam bukunya, Limpach membahas banyak penyebab kegagalan secara mendalam. Permasalahan utamanya adalah personel intelijen Belanda yang terlalu sedikit, kurang terlatih dan kurang berpengalaman. Ditambah banyaknya informan lokal yang memberi informasi ke pihak Indonesia.
Faktor ini menjadi semakin penting seiring berjalannya waktu, ketika pasukan Belanda harus menguasai wilayah yang semakin luas dan pertempuran semakin menjadi perang gerilya. Sebaliknya, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan kelompok tempur memiliki sejumlah besar prajurit intelijen dan pasukan tambahan dengan jaringan yang sangat baik yang menjangkau lapisan terdalam masyarakat Indonesia. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!