Kemajuan Ekonomi Digital Perlu Didukung Industri Telekomunikasi Sehat
📅 Selasa, 03 Okt 2023, 19:22 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: istimewa
JAKARTA - Infrastruktur digital, termasuk jaringan telekomunikasi, pusat data, dan platform digital, merupakan tiang utama yang menopang industri digital. Tanpa infrastruktur yang kuat dan handal, tidak akan mungkin bagi bisnis dan perekonomian digital untuk berkembang.
Infrastruktur digital yang baik adalah landasan yang diperlukan untuk menghubungkan masyarakat, memfasilitasi transaksi daring, dan mengaktifkan layanan digital lainnya. Operator telekomunikasi adalah pilar dalam menopang industri dan perekonomian digital di Indonesia, serta akan terus berperan penting di masa depan.
Operator seluler bertanggung jawab untuk membangun dan memelihara infrastruktur telekomunikasi yang kuat dan handal, sehingga memungkinkan bisnis digital, layanan publik digital, dan inovasi lainnya untuk berkembang dengan optimal.
"Namun keberhasilan industri dan perekonomian digital Indonesia sangat tergantung pada peran operator telekomunikasi dalam menyediakan konektivitas yang luas, cepat, dan andal kepada masyarakat serta membantu menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan inovatif," ujar CEO Selular Media Network, Uday Rayana dalam Selular Business Forum (SBF) 2023 Senin (2/9).
Ia mengatakan pemahaman ini, penting bagi pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk memberikan dukungan yang kuat kepada operator seluler. Mereka memerlukan kondisi yang kondusif bagi operator telekomunikasi dalam menjalankan perannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kolaborasi yang erat antara operator telekomunikasi, pemerintah, dan sektor lainnya diyakini akan membantu memajukan industri dan perekonomian digital Indonesia, serta mempersiapkan masa depan yang lebih cerah di era digital yang terus berkembang.
Tidak Baik-baik Saja
Ia memaparkan, saat ini industri telekomunikasi memiliki peran yang semakin strategis, terutama sebagai enabler bagi industri lainnya. Namun sayangnya yang terjadi justru kondisinya sedang tidak sedang baik-baik saja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak memasuki masa kejenuhan (saturated) pada 2013, pertumbuhan industri telekomunikasi khususnya selular, kini tidak lagi tinggi. Jika sebelumnya bisa tumbuhdouble digit,sekarang sudahsingle digit.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), industri telekomunikasi tumbuh melambat ke level 7,19 persen secara tahunan. Fakta ini menjadi alarm bagi ekosistem industri teknologi digital yang mampu tumbuh tinggi saat pandemi Covid-19.
Pertumbuhan yang melambat juga tercermin dariaverage revenue per user(ARPU). ARPU merupakan salah satu indikator kesehatan industri telekomunikasi. ARPU yang rendah pada akhirnya tentu akan berkontribusi pada pencapaian laba yang juga kurang optimal, sehingga mempengaruhi upaya operator dalam melakukan investasi dan melayani pelanggan dengan baik.
Tiga dekade lalu, sebelum maraknya layanan data dan sosial media, ARPU operator telekomunikasi, khususnya selular mencapai 75.000 - 100.000 rupiah. Namun di akhir 2022, tidak ada satu pun operator selular yang ARPU gabungannya (prabayar dan pascabayar) menyentuh angka 50.000 rupiah.
Masalah Operator
Uday juga menyebut terdapat enam persoalan utama yang mendera industri telekomunikasi khususnya seluler, sehingga tumbuh stagnan hingga saat ini. Keenam permasalah tersebut yakni regulasi super ketat, tarif data yang terbilang murah, dan kebutuhan frekuensi terus meningkat namun harga spektrum sangat mahal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!