Portugis Nikmati Keuntungan Berdagang di Nagasaki
📅 Jumat, 29 Sep 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoKetiga Portugis tiba, Nagasaki masih berupa pelabuhan perikanan sederhana. Selanjutnya tempat ini menjadi pusat perdagangan yang berkembang pesat yang akhirnya menjadi salah satu kota besar di Jepang.
Ketika itu negara Jepang belum sepenuhnya bersatu, pelabuhan Nagasaki diberikan sebagai wilayah kekuasaan kepada Portugis oleh Omura Sumitada, seorang daimyo (tuan feodal) dari Hizen di barat laut Kyushu. Secara khusus, pelabuhan tersebut diserahkan kepada Jesuit Gaspar Vilela yang terpilih berkat bujukan pengikut Sumitada.
Serah terima dilakukan pada 1571, tetapi akta resminya baru ditandatangani pada 1580. Sebagai bonus, Sumitada memberikan benteng Mogi di dekatnya kepada para Jesuit. Syaratnya adalah tidak akan ada kehadiran militer Portugis secara permanen di kawasan pelabuhan.
Pelabuhan tersebut kemudian dikelola oleh Jesuit Society of Jesus, dan merupakan satu-satunya wilayah kedaulatan mereka. Nagasaki kemudian menjadi markas penting pekerjaan misionaris Jesuit di Asia timur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelabuhan tersebut secara resmi bukan bagian dari Kerajaan Portugis. Situasi seperti ini lazim terjadi di pelabuhan-pelabuhan lain Portugis di Asia. Mereka hanya ingin membangun kehadiran dan konsesi perdagangan dengan pemerintah setempat.
Menyusul berdirinya Nagasaki Portugis, setiap tahun hingga tahun 1618, sebuah kapal besar berlayar dari Makau ke Jepang setelah sebelumnya singgah di Goa. Dari 1619 hingga 1639 kapal tunggal ini diganti dengan armada kapal yang lebih kecil.
Kapal kargo besar Portugis yang melintasi rute antara Makau dan Nagasaki memiliki pilot Tiongkok tetapi penuh dengan barang dan pedagang Portugis. Mereka kerap muncul di lukisan layar Jepang pada masa itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Orang Jepang menyebut orang asing ini Nanbanjin (orang barbar selatan) dan perdagangan dengan mereka disebut "perdagangan Nanban". Barang-barang yang diekspor dari Jepang antara lain perak (dari tambang di Honshu), tembaga, layar dicat, pernis, lemari, kimono, pedang, dan tombak.
Kapal-kapal Portugis dapat membawa sutra, emas, dan porselen Ming. Barang-barang ini hasil kontak dagang dengan Kanton dan Makau Portugis. Sedangkan rempah-rempah dan barang-barang lainnya diperoleh dari jaringan perdagangan mereka di Samudera Hindia dan Asia tenggara.
Akhirnya perdagangan dengan Jepang tidak bisa dilakukan oleh Portugis sendiri. Pada abad ke-17 tiba para pedagang Inggris dan Belanda tiba untuk mendapatkan keuntungan dengan berdagang dengan Jepang.
Diizinkannya kedua bangsa Eropa untuk berdagang oleh otoritas Jepang membuat Portugis marah. Mereka mencoba mengeksekusi saingan mereka di Eropa dengan menganggapnya sebagai bajak laut. Namun walaupun mendapat pesaing baru, perdagangan Portugis di Nagasaki terus berkembang selama tiga dekade berikutnya. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!