Politikus Muda Masih Didominasi Dinasti Politik, Apa Kabar Kaderisasi Partai?
📅 Jumat, 29 Sep 2023, 12:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Asprilla Dwi Adha
Wawan Kurniawan, Universitas Indonesia
Pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, lebih dari 50% pemilih, atau sekitar 114 juta dari total 204,8 juta daftar pemilih tetap, adalah kaum muda yang berusia di bawah 40 tahun.
Ini bisa menjadi kabar baik karena pemilih muda diyakini memiliki pemikiran yang lebih kritis, seperti terhadap kinerja parlemen dan dalam mengawal pembuatan undang-undang, serta memiliki banyak gagasan segar.
Banyak pula dikabarkan bahwa pemilihan anggota legislatif (Pileg) yang menjadi bagian dari Pemilu tahun depan akan dipenuhi oleh calon legislatif (caleg) muda, bahkan banyak yang baru lulus kuliah sarjana strata 1 (S1).
Ini menjadi angin segar bagi perpolitikan Indonesia, karena menurut survei, partisipasi anak muda yang terjun ke politik sebagai caleg masih sangat minim dan minat mereka terhadap politik cenderung kecil.
Sebaiknya Anda baca juga:
DPR RI periode 2019-2024 hanya memiliki sekitar 30%, dari total 575 anggota legislatif, yang berusia di bawah 40 tahun. Setidaknya ada 10 politikus muda DPR RI periode ini yang memiliki orang tua atau berasal dari keluarga yang sudah memiliki rekam jejak panjang di panggung politik Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa meskipun kita bisa berharap banyak pada kaum muda, di saat yang bersamaan kita mesti melihat kenyataan bahwa kaum muda yang maju dalam kontestasi politik masih didominasi oleh mereka yang memiliki akses khusus terhadap partai.
Mereka biasanya adalah anak dari keluarga yang telah lama berkecimpung di dunia politik (dinasti politik), anak dari pimpinan partai tertentu, atau anak dari figur tokoh partai tertentu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tidak ada yang salah dengan status itu. Namun, kita sebagai pemilih harus hati-hati, karena belum tentu mereka benar-benar memiliki kapabilitas dan gagasan yang solid. Jangan sampai kita memilih kaum muda yang hanya mendompleng status dari dinasti politik atau yang hanya akan membentuk oligarki.
Kaum muda dan dinasti politik
Jika membahas dinasti politik, contoh yang paling mudah kita amati adalah posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang dalam waktu singkat meraih jabatan Ketua Umum Partai Demokrat-kurang lebih empat tahun setelah ia bergabung dengan partai itu. Ini tentunya tidak lepas dari posisi ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai pendiri dan sosok penting dalam partai Demokrat sekaligus presiden yang berkuasa selama satu dekade (2004-2014).
Hal serupa juga terjadi pada Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Presiden Joko "Jokowi" Widodo, yang menang telak dalam Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Solo tahun 2020, meskipun ia baru masuk dunia politik tahun 2019.
Gibran tampaknya mengikuti jejak sang ayah, yang awalnya menjadi pebisnis lokal, kemudian menjadi politikus nasional mulai dari jabatan Walikota Solo.
Menantu Jokowi, Bobby Nasution, yang juga pendatang baru di politik, pun berhasil terpilih menjadi Walikota Medan pada Pilkada 2020-bahkan ia menang dengan mudah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!